Thursday, October 27, 2011

Mengingat Hari Itu....

Mengingat hari itu... menuju 14 Juli 2007... Hari Pernikahan kami.

Awalnya kami sepakat untuk menikah di tanggal triple 7 (07-07-07) : 7 Juli 2007, ternyata banyak pasangan yang berpikiran sama dengan kami. Mereka telah lebih dari satu tahun booking gedung resepsi yang sama dengan pilihan kami. Sedangkan kami booking 6 bulan sebelumnya, so it was fully booked!
Apa mau dikata, langsung secepat kilat musti diputuskan akan menikah di tanggal berapa.
Setelah berdiskusi dengan keluarga, akhirnya diputuskan untuk mundur seminggu, "yah gak papa deh 14 Juli 2007.. toh 7 kali 2 = 14 hahahahaha..", hiburku dalam hati.

Mengenal Aji sejak umur 8 tahun, tanpa diduga kami bertemu di Jakarta ketika kami sudah sama-sama bekerja. Kami berpacaran 1 tahun dengan ijin orang tua yang langsung setuju.. hehe..
Desember 2006, Aji menghadap papa mama untuk menyatakan keseriusannya dan mohon ijin untuk melanjutkan ke pernikahan.

Lampu hijau menyala. Maka persiapan pernikahan langsung kami handle dari Jakarta.
Mulai dengan membuat daftar apa-apa saja yang harus dikerjakan, membuat buku urutan tata cara pernikahan, membuat desain undangan, desain cover CD untuk souvenir, desain kartu ucapan terimakasih, membuat buku misa pernikahan dan lagu-lagu pilihan, membuat layout gedung, membuat tanda-tanda penting untuk di gedung, membuat desain foto yang akan dipasang di gedung, dan tentunya masih banyak lagi.
Komunikasi meningkat, karena harus berdiskusi dengan orang tua di Jogja, juga para penyedia jasa di Jogja seperti fotografer, koor, cetak undangan, dan rekaman CD.

Pembagian tugas mulai dilakukan.
Susunan panitia mulai dibentuk dan kami serahkan sepenuhnya kepada keluarga Jogja.
Termasuk konsumsi, pemilihan seragam, bunga, dan tata cara upacara di rumah, kami putuskan untuk pasrah kepada keputusan dan keinginan papa dan mama.
Kami sadar ini bukan hari kami.. karena ini hari mereka juga.. Kesempatan mereka untuk berbahagia dan membanggakan anak-anaknya.
Proses ini tanpa sadar menjadi sarana kami melalui tahap awal pendewasaan.

Rute Jogja-Jakarta pun padat kami tempuh. Seolah kami dikejar oleh keterbatasan waktu.
Undangan kami desain sesimple mungkin. Cukup dengan jepretan kamera Aji di depan kostku di Blok M.
Proses cetaknya kami dibantu oleh Mas Henky (Miracle Design & Printing). Thanks a lot mas.




Nah, souvenir ini menjadi ajang keisengan kami.
Souvenir kami adalah CD Lagu yang berisi suara kami menyanyikan kompilasi lagu favorit.
Ada 7 Lagu; Finally Found Someone, All I Ask Of You, The Prayer, Rapuh, Bimbang, Sometimes When We Touch, We Could Be In Love. Rekaman kami lakukan di rumah, dibantu oleh teman hebat Mas Gun Vishnu menggunakan mixer sederhana dengan software filter sehingga suara rekaman tetap bisa jernih.
Brilliant! Thank you Mas Gun. Desain cover CD cukup simpel.



Proses cetak cover CD bersamaan dengan buku misa pernikahan dan ucapan terimakasih dibantu oleh Mas Henky. Hanya saja saat detik-detik terakhir, saking banyaknya permintaan, percetakan tidak mampu selesai tepat pada waktunya. Maka finalisasi cover CD dan ucapan terimakasih pun kami proses sendiri hingga 3 jam sebelum kami dirias. Anak-anak kost pun dikaryakan. Terimakasih ya adek-adek...
Seru! Kalau mengingat semua proses persiapan itu aku pasti cekikikan sendiri.

Foto prewedding kami lakukan di tiga lokasi di Jogja dibantu oleh Tyas-Foto, teman baik kami dan fotografer langganan keluarga. Beliau sangat fleksibel dan membantu sekali saat proses pemotretan, sehingga kita akan dibuat nyaman ketika harus berpose. Dan pastinya harga yang terjangkau.
Berikut paket untuk pernikahan dan video kami serahkan kepada beliau. Maturnuwun mas.





Bersyukur sekali bahwa semuanya berjalan dengan lancar saat itu dan membahagiakan hingga saat ini.
Sempat kesehatan papa menurun kira-kira 3 minggu menjelang acara pernikahan. Namun sekali lagi, sunggu luar biasa... papa kembali sehat dan mampu menjalani prosesi pernikahan kami selama 4 hari (pemasangan bleketepe sampai acara boyongan).

Terima kasih Tuhan atas hari indah itu..
Mengingat Hari itu adalah bagian dari hidup kami sepanjang masa..
Menjadikan momen kebahagiaan ini dalam perjalanan kami selanjutnya hingga akhir..
Semoga semua pasangan mengalami kebahagiaan seperti yang kami alami tanpa kurang satu apapun...


- Tuhan Memberkati -

Wednesday, October 26, 2011

Berkaca: PEKA terhadap Sesuatu

Sebenernya nih... arti kata PEKA itu positif ato negatif?

Seorang teman yang aku percaya bisa menjelaskan hal ini mengatakan, "itu tergantung konteksnya mba.."
Tapi aku kok masih belum paham juga ya hehehe.. dudul kali yah aku-nya
Menurut aku, kepekaan adalah hal yang positif dan menggaungkan doa tentang kepekaan adalah baik, seperti...
- Semoga para pengemudi angkot PEKA dengan kondisi lalu lintas dan pemakai jalan yang lalin- Semoga kakak yang cantik dan tampak smart itu semakin PEKA dan ga buang sampah sembarangan lagi
- Semoga sang anak PEKA dengan pekerjaan rumah untuk meringankan kegiatan sang Ibu

Aku masih juga mencari tau sampai saat ini apakah persepsi ku ini bener..
Semoga ada yang membantu untuk menjelaskan nantinya

Entah itu adalah
- peka untuk membantu orang lanjut usia atau disable people (berkebutuhan khusus) ketika mau menyeberang jalan, ketika mau meletakkan barang yang agak sulit dijangkau, ato mungkin mo mendahulukan mereka di antrian untuk beli makanan ato bayar belanjaan
- peka untuk tidak melempar bungkus plastik sekecil apapun, puntung rokok, ato apapun lewat jendela mobil ato pun pas naik motor yang sedang berjalan.. karena bisa membahayakan orang dibelakangnya
- peka untuk tidak membuang sampah di selokan/parit, apapun sampahnya supaya aliran air (walopun di Jakarta uda terlanjur item) tetap berjalan dan ga mampet
- peka dengan tanggung jawab dan komitmen yang harus dilaksanakan ketika bergabung dalam sebuah organisasi sosial dengan segala konsekuensinya
- peka untuk antri dan toleransi dalam segala hal, misalnya di jalan raya... saling memberi jalan ketika kondisi jalan dari 2 lajur menjadi 1 lajur (menyempit), ketika traffic light mati di persimpangan dan ato ketika ada yang menyeberang

dan pasti masih banyak lagi peka-peka yang lain ya...

Semoga semakin hari semakin peka.. semakin hari semakin baik

- Tuhan Memberkati -



Wednesday, October 19, 2011

Perjalanan Hidup Seorang Wanita

Mengutip dari: http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/
Sharing tentang perjalanan hidup seorang wanita yang dijodohkan oleh seseorang hingga menikahinya

"Aku Terpaksa Menikahinya"

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Monday, October 17, 2011

Seorang Sahabat

punya sahabat?
sahabat yang selalu ada walopun tidak secara fisik, tetapi selalu bisa menenangkanmu dan sebagai tempat curahan hati kalo lagi sumpek?

akan lebih indah kalo kita punya sahabat di dunia ini
hehehehehe...
kita bisa ungkapkan apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita
kita bisa saling memberi masukan atas apa yang kita alami dalam keseharian kita
kita dapat saling menjadi guru dan murid dalam waktu bersamaan untuk meningkatkan kualitas hidup kita di dunia ini

aku punya seorang sahabat
sejak SMP sampai sekarang kami masih bersahabat
sungguh indah dan selalu penuh syukur bersahabat dengannya
kami tumbuh berkembang bersama dari usia 13 tahun sampai sekarang 30 tahun

kalo mengingat perjalanan persahabatan kita .. lucu ..
dari seneng-seneng, sedih dan saling menghibur, marah dan saling diem, trus maafan, juga saling memberi masukan dan nasehat terhadap peristiwa-peristiwa yang kami alami masing-masing ..

SMP, karena memang satu sekolah... selalu bersama tiap harinya
SMA dan Kuliah, beda sekolah... tetapi selalu saja menyempatkan waktu untuk bersama
dan sekarang Kerja di beda kota dan sama-sama sudah berkeluarga dengan anak satu, tidak ada yang berubah.. selalu menyempatkan waktu untuk bertemu kalo pas aku pulang ke jogja..

aku yakin pasti kami punya ikatan kuat di masa lalu sehingga kami dipertemukan di kehidupan sekarang ini untuk berproses bersama menjadi lebih baik lagi...
baik itu dalam hubungannya hanya untuk kami berdua, atau kami berempat (dengan suami-suami), dan atau kami berenam (dengan para krucil tersayang).. bahkan mungkin juga "berbanyak" dalam lingkup keluarga kami..

Say, makasih banyak ya atas kebersamaan selama ini
Semoga kita dapat berproses dengan semakin banyak orang dengan pengalaman hidupnya masing-masing dan menjadikan kita semakin baik dalam segala hal...

dedicated for my best friend: Christina Dian Auliani Renyaan and her family

-Tuhan Memberkati-

Monday, October 10, 2011

Kepuasan vs Kecukupan


Kali ini aku pengen share pengalaman hidup kami di awal pernikahan.
Mungkin dari cerita kami bisa berguna untuk teman-teman yang berkunjung disini untuk kemudian melihat kembali perjalanan hidup kalian dan semoga bisa diambil hikmahnya.

Peristiwa ini terjadi antara bulan April 2008 sampai April 2009
Saat itu Aji diterima di sebuah perusahaan consumer good terkemuka di Indonesia (setelah 2x pindah kerja hehehe...) dan sudah 3 bulan kerja. Awalnya, dia berkantor di Jakarta tapi setelah lolos masa percobaan 3 bulan  pihak kantor menempatkan Aji di Surabaya. 

Sontak aku terkejut denger berita penempatan kerja ini. Tidak pernah terbayang dalam benakku bahwa kami akan berpisah kota setelah menikah, apalagi saat itu kami baru tahu bahwa aku hamil anak pertama kami (Abi). Sama sekali ga ada tanda-tanda bahwa dalam waktu dekat dia akan dipindahkan ke Surabaya. Tapi sebagai karyawan baru, tentu saja tidak bisa menolak tanggung jawab tersebut walaupun sangat mendadak.

Kami ga dapat berbuat banyak, hanya pasrah. Aku sendiri berusaha keras untuk menutupi perasaan takutku pas liat dia tampak bersemangat menjalani tanggung jawab barunya.
“He wants this?...”, batinku. 
Kembali terlintas dalam ingatan ketika beberapa waktu lalu kami berdebat tentang keinginan dia pindah kerja lagi. Walaupun aku paham dengan keinginan dia untuk menjadi Kepala Keluarga yang baik yang dapat mencukupi kebutuhan istri dan anak, tapi entah kenapa aku lebih melihatnya sebagai suatu kepuasan yang tak pernah tercukupkan dalam materi. Atau status? Semoga hal itu tidaklah benar.

Hampir 1 tahun berlalu, sejak April 2008.
Dia di Surabaya, aku di Jakarta bekerja dan menjalani kehamilanku. Kami bertemu 2–3 minggu sekali. Tapi lebih sering sih 3 minggu sekali karena perjalanan Surabaya - Jakarta ga sebentar juga dan menyesuaikan waktu kerja dia... Hmmm.. waktu itu transportasi nya naik Kereta Api.. aku lupa deh kenapa ga naik pesawat ya?

Pebruari 2009, Abimanyu lahir di Jogja. 
Tapi belum ada dua minggu setelah kelahiran abi, peristiwa baru yang lagi-lagi di luar dugaan terjadi. Aji bersikap seperti orang yang ketakutan dan putus asa yang berlebihan. 
Saat itu dia harus mempersiapkan bahan untuk proses evaluasi masa kerja. 
Entah apa yang membuat dia bersikap seperti itu, berbagai pertanyaan dan diskusi aku lontarkan tetapi hanya satu jawaban dia, “Aku takut, Ma… Ga tau.. tapi aku takut!.....”
"Takut apa sih?", selalu itu yang menjadi pertanyaanku
"Ga tau.. Ga tau", jawabnya
Bentuk-bentuk kegelisahan sebenernya sudah dia tunjukkan sejak akhir tahun 2008. Dia merasa tidak nyaman disana, bahkan sering bermimpi yang aneh-aneh.
Kalo saat ini kami flash-back keanehan-keanehan yang terjadi saat itu, baru ngeh deh bahwa itu adalah tanda-tanda dari alam semesta untuk mengembalikan apa yang semestinya.

Lanjut...
Sampai suatu saat.. kondisi Aji memburuk, dia jadi kurang bisa diajak komunikasi melalui telepon karena lebih banyak diam dan tidak fokus bahkan sering menangis. 
Perasaanku sedih, marah, bingung, ga karuan menghadapi keadaan ini, sedangkan di saat yang sama aku masih proses pemulihan setelah melahirkan dan juga menyusui. 
Namun, ada kekuatan dalam hati kecilku yang mendorong aku untuk menyusul Aji ke Surabaya, memastikan bahwa semuanya harus dilewati dan akan baik-baik saja. 
Dengan segenap kekuatan yang ada, aku nekad menyusulnya ke Surabaya tanpa memberitahu lebih dulu. Padahal aku sama sekali ga tahu seperti apa kondisi di Surabaya (terakhir ke Surabaya pas SMP) dan lokasi tempat kerjanya pun aku ga tau.

Sampe disana, kutemukan sosok lain dari suamiku ini....
Seolah dia sedang berusaha mengangkat beban berat yang aku sendiri tidak tahu apa. 
Curahan kerinduan dan kepenatan batin terungkapkan dari hati ke hati, namun tetap belum menyembuhkan ketakutan yang sedang dialaminya. Aku biarkan Aji curahin semuanya biar lega.
Tapi justru aku mulai melihat apa yang sesungguhnya terjadi, yaitu sebuah penolakan dari hati terdalam terhadap kondisi dan sistem di lingkup pekerjaan yang tidak sesuai. Inilah yang paling mendasar penyebab kegelisahan, di samping faktor lain tak terkatakan dengan unsur kesengajaan sebagai pemicu ketakutannya. 

Aku bawa Aji pulang ke Jogja untuk menenangkan pikiran dan supaya bisa refresh.
Juga.. kami menceritakan apa yang terjadi dengan keluarga 
Dengan berbagai pertimbangan dan juga mengikuti saran-saran orang tua pastinya... 
Akhirnya, kami putuskan Aji berhenti bekerja dari perusahaan tersebut.
Dan entah kenapa, setelah berhenti.. Aji bisa kembali ke Aji yang dulu.
Terima kasih Tuhan.. syukurku kepadaMu selalu untuk kekuatanku saat itu.
Sebagai seorang Kepala Keluarga, sangat dipahami ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri apabila kebutuhan keluarga sepenuhnya tercukupi. Namun, keinginan untuk mencapai suatu kecukupan tidak serta-merta berdasar pada kepuasan.

Kepuasan manusia tidak akan ada habisnya, sedangkan sebuah kecukupan akan ditunjukkan melalui fungsinya dalam kehidupan berkeluarga kita. Apa yang menjadi kebutuhan keluarga selalu dapat dibicarakan secara horizontal antara suami-istri dan secara vertical antara suami-istri dan Tuhan, Sang Pemberi Kehidupan. Dan, YAKINLAH!... segala sesuatu ada waktunya.

Tidak selalu hidup berkelimpahan materi adalah baik dan sebagai target pencapaian yang seharusnya di dunia ini.   
Perhatikanlah apa yang dikatakan jauh di hati terdalam kita untuk kita lakukan di dunia ini. 
Hidup tentram dan damai, adalah yang terpenting.

Tuhan Memberkati..

Tuesday, October 4, 2011

Keseimbangan Hidup

Aku bersyukur kepada Tuhan atas anugerah di awal Oktober 2011 ini...
aku dan aji dipertemukan dengan seseorang yang memberikan kami pelajaran tentang hukum kehidupan, keseimbangan energi, kepasrahan, dan keyakinan terhadap Tuhan
Pelajaran yang sebenarnya selama ini sudah kita lalui bersama dan sudah kita lakukan tapi masih belum kita sadari dapat membawa kita pada keseimbangan hidup

Hukum kehidupan fokus pada hukum pembelajaran, hukum gaung, dan hukum menabur dan menuai (keseimbangan energi).
"Kehidupan ini adalah sebuah sekolah untuk jiwa kita agar kualitasnya menuju kesempurnaan" (Arif Rh)

Pembelajaran kita di dunia ini adalah lahir, berkembang, dewasa, lalu meninggal.
Dalam masa hukum pembelajaran inilah kita diharuskan untuk BELAJAR dalam hubungannya dengan alam dan sesama manusia dan melakukan hukum gaung dan keseimbangan energi.
Hukum Gaung itu sendiri lebih dimaknakan pada proses pemantulan kata-kata yang kita ucapkan atau terkadang kita tujukan ke orang lain yang akan kembali kepada diri kita sendiri bahkan berlipat-lipat kekuatannya.
Sedangkan Hukum Menabur Menuai atau keseimbangan energi... aku yakin banyak orang yang mengetahui hal ini tapi entah memahaminya secara sadar atau tidak. Energi yang baik atau disebut Energi Positif yang kita sebarkan kepada alam dan sesama manusia pasti akan kembali suatu saat kepada kita sebagai sesuatu yang baik. Dan begitulah sebaliknya, apabila kita melakukan keburukan/kejahatan yang disebut Energi Negatif.

Tuhan menciptakan kita manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di dunia ini, yang dipercaya dapat mengelola dunia ini dengan baik dan harmonis dengan alam semesta dan sesama manusia.

Mungkin kita bisa mengingat kembali apa yang sudah kita lakukan...
pernah mengejek orang lain? merendahkan orang lain?
pernah mengotori alam, membuang sampah sembarangan? merusak tanaman?
pernah menyalahkan Tuhan atas kondisi yang kita alami?
pernah berkata tidak jujur/berbohong?
pernah menyalahkan diri sendiri dan menghukum diri terus-menerus?
dan sebagainya....

Hal-hal yang telah kita lakukan kepada alam semesta dan sesama manusia akan kembali kepada kita...
Kita pernah merendahkan orang, suatu saat kita akan direndahkan
Kita pernah menyalahkan diri sendiri.. kita tidak akan bisa berkembang menjadi lebih baik
Kita pernah mengotori alam.. alam pun akan memberikan respon yang negatif
Kita pernah menyalahkan Tuhan.. justru kitalah yang membuat keadaan makin runyam

Mari.. kita indahkan perintah Tuhan kepada kita untuk memberikan keseimbangan hidup dalam dunia ini...
Berdamailah dengan diri kita sendiri terlebih dahulu
Sempatkanlah untuk mendengar apa yang diharapkan oleh jiwa kita dengan merenung dan sadarilah nafas kita ....
Amati setiap pikiran yang lewat apapun itu.. entah masa lalu atau masa depan... entah positif atau negatif
Lalu berdamailah dengan diri kita sendiri... "OK aku menerima semuanya itu"
dan berbicaralah kepada Tuhan, harapan-harapan kita dan rencana-rencana kita baik itu untuk orang lain, alam semesta, dan teakhir untuk kita sendiri...
Setelah itu.. lepaskanlah.. biarlah semua harapan dan rencana kita diatur oleh Tuhan dan percayalah selalu kepada Tuhan yang berkuasa di alam semesta ini

Semoga... setiap orang bisa melakukannya dan memancarkan energi positif kepada alam semesta dan sesamanya...

Terima kasih kepada Mas Arif Rh, yang sudah menjelaskan dan mengajari kami banyak sekali tentang esensi kehidupan ini...
Untuk lebih mengetahui program beliau, silakan kunjungi: http://arifrhappiness.wordpress.com/

..Tuhan Memberkati..