Tuesday, November 29, 2011

Berkaca: INTROPEKSI

Sebuah kata yang sering kita lontarkan ke dalam diri kita ... apalagi menjelang hari tambah usia kita...
"Ingin Instropeksi diri supaya ke depannya lebih baik"..
Dan apakah yang terjadi di kemudian hari? Lebih baik kah?
Sebenarnya iya... mungkin.. hehehehe.. tapi sepertinya kita kurang menyadarinya dan kita kurang mendengarkan apa yang hati kita katakan .. apa yang badan kita teriakkan...

Berkaca dari pengalaman orang lain atau dengan melihat tingkah laku orang lain sebagai bahan instropeksi diri kita masing-masing sepertinya bisa juga dan ga ada salahnya... kembali pada tujuan dan niat kita bukan?

Illustrasi:

Ada seorang wanita yang memiliki mimik wajah galak, sering menegur orang lain dengan intonasi yang tinggi cenderung memarahi, sering memotong pembicaraan orang lain dan membicarakan dirinya sama persis dengan apa yang sedang diceritakan saat itu, kalo ditegur balik walopun dengan gaya bercanda wanita ini akan marah bahkan sampe mengumpat... Sikap wanita tersebut dipandang dari sudut pandang orang-orang disekitarnya yang in-touch dengan nya. Seiring waktu berjalan, orang-orang disekitarnya menjadi gerah karena sikap wanita ini... Dan mulai menjauh walopun tetap menyapa/bersilaturahmi, namun banyak yang menghindar untuk berurusan dengannya.

Ketika hal ini terjadi dan dia mulai merasakan sikap menjauh dari orang-orang sekitar.. Apa yang dia lakukan?
Dia menyalahkan orang-orang tersebut dengan mengatakan bahwa hal bercanda itu menyakiti hatinya dan juga dia ingin orang-orang bilang kalo tidak suka dengannya, kemudian dia menghentikan segala kegiatannya yang sebelumnya dilakukan bersama dengan kelompok ini.

Apa yang bisa kita ambil dari cerita ini?

*Ada baiknya si wanita ini instropeksi diri dengan menanyakan ke beberapa orang terdekat di kelompok itu alasan orang-orang tersebut menjauh dan bukan menyalahkan orang lain
*Mungkin juga, sikap bercanda yang dilontarkan orang-orang disekitarnya dikurangi... tapi menurutku kalo si wanita ini bersikap lebih bijaksana maka hal-hal tentang bercanda tadi tidak akan jadi maslaah tentunya
*Lebih baik lagi, jika ada orang yang bersikap netral, approach si wanita ini untuk memberikan simulasi tentang sikap dia sendiri kepada orang lain agar dia berkaca juga terhadap sikap nya yang kurang baik...

Hmmm... kira-kira analisa aku bener ga ya?
Jadi apa? Ada api pasti ada asap?

Kalo orang-orang disekitarmu bersikap lain dari biasanya, lebih baik kembali kepada diri kita, mungkin ada sikap kita yang kurang baik dan berusaha memperbaikinya. Juga mengurangi kecenderungan kita untuk menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, bahkan sampe menyalahkan Tuhan atas hal-hal yang terjadi sehari-hari.


-Tuhan Memberkati-


2 comments:

  1. Setuju mbak Lia,
    melihat situasi tsb, lebih baik mmg kita bisa introspeksi diri. Kalo kita tidak suka sikap seseorang, maka janganlah kita menirunya.

    Sedangkan sikap kita kepadanya, ya persuasif aja. Kalau harus berkomunikasi ya berkomunikasi dengan baik. Bila perlu sekali2 beri perhatian dengan tulus. Mengalah itu bukan kalah, apalagi bila itu untuk ketentraman lingkungan/orang banyak.

    Aku dulu wkt kerja jg pernah punya teman spt itu. Orang2 malas berhubungan dg dia. Tapi sama aku akhirnya dia baik. Berhubungan dg dia aku nothing to lose aja. Kalau ketemu selalu menyapa dg senyum. Kalau ada perlu sama dia aku ngomong sopan dg minta maaf dulu kalau mengganggu. Kalau dia ngomel, aku diam saja biar ngga tambah ramai. Kalau dia minta bantuan, ya aku bantu tanpa banyak omong. Tapi yg jelas aku selalu tersenyum sama dia.

    Sedikit demi sedikit dia jadi lebih ramah dari sebelumnya dan bisa jadi temen ngobrol...:)

    Oke, sy setuju bhw introspeksi itu ya sepanjang hidup...:)

    ReplyDelete
  2. Iya Bu Retno, aku juga setuju dengan itu..
    Yang paling penting memang intensi kita untuk bersosialisasi dengan baik ya..
    tujuan baik dengan niat baik dan sikap yang baik, pasti akan berakhir baik pula
    Amin.. hehehehe...

    Makasih ya Bu... :)

    ReplyDelete