Thursday, October 31, 2013

Jumpalitan 2

Puji Tuhan Alam Semesta ...
Di usianya 4 tahun 8-9 bulan ini, koordinasi tangan dan kaki Abi mengalami banyak perkembangan.
Abi sudah lebih jago dalam hal life skill seperti makan sendiri, mandi sendiri, pake baju sendiri (masih dibantu), merapikan tempat tidur, merapikan mainan dan alat permainan, memakai sepatu, melepaskan jaket..
Terkait baju, masih jadi PR kami untuk membantu Abi dengan kancing.. hehehe.. masih belum lancar memasukkan dan mengeluarkan kancing baju. Sambil jalan ya nak..

Selain itu, Abi makin sering jumpalitan >_<
Abi suka lompat-lompat, guling-guling, turun dari kasur tangan dan kepala lebih dulu, muter-muter sampai lama trus diam menikmati efek puterannya.
Belakangan Abi coba naik sofa tanpa ada pegangannya. Seolah itu balok titian, sepertinya itu yang dibayangkan Abi. Setelah bisa berdiri tegak di senderan sofa selanjutnya dia akan melompat.
Aku menahan berkata-kata walaupun hati deg-degan. Sesekali tangan kuangkat, mungkin dia butuh pegangan, pikirku. Awalnya iya, Abi akan cari tanganku untuk menyeimbangkan diri. Tapi semakin kesini makin mahir. Abi bisa koordinasikan tangan dan kaki untuk maju atau mundur, mana yang harus lebih dulu.

Satu lagi..
Makin sering ajak ciat-ciat..
waduh, kudu siap body nih Mamanya hohoho...





-Tuhan Memberkati-

Sunday, October 27, 2013

Webinar#4 - Belajar Melalui Keseharian

Webinar keempat ini membahas tema "Belajar Melalui Keseharian", bahwa dalam keseharian tanpa kita sadari banyak hal yang bisa dijadikan sebagai pembelajaran.
Walaupun webinar di Rabu malam sempat tertunda dan reschedule menjadi Sabtu malam, tak jadi soal karena tetap seru bahasannya dan tetap saja mencerahkan.

http://humanscaleschools.tumblr.com/post/24679250161/daydreamingaboutassholes-image-quote-by.
Banyak poin mendasar bagi kita -orangtua- yang bisa diambil dalam webinar kali ini.
Salah satunya adalah seperti quote dari John Holt yang aku dapatkan dari internet di atas, yaitu tentang TRUST. 

Sebagai praktisi pemula HS untuk anak balita (Abimanyu saat ini 4tahun 8bulan), menurutku yang dibangun lebih dulu adalah Trust. Karena berproses dengan anak balita dalam HS (in my mind) adalah membebaskan dia berimajinasi, bereksplorasi, mengenal apapun itu.
Kalo tidak ada Trust dalam diri kita, pasti batasan-batasan yang pernah kita dapatkan ketika masih kecil, akan kembali kita doktrinkan ke anak kita. Padahal mungkin itu tidak perlu atau bahkan justru menghalangi proses anak untuk berkembang.

Beberapa contoh yang sering kita dengar:
- Jangan panjat pohon, nanti kamu jatuh lho! (padahal skill ini penting)
- Udah kamu sini aja diem ah! (memerintah tanpa alasan)
- Eh udah deh, mama aja yang tuang, nanti malah tumpah kemana-mana! (membatasi dg menuduh)
Kalo sudah baca sana sini tentang parenting, pasti mendengar atau membaca kalimat-kalimat di atas ini rasanya risi. Kok anak diperlakukan begitu ya.. Jleb! deh...

Kekuatan HS yang sekaligus membedakannya dari sekolah formal salah satunya adalah belajar melalui keseharian ini. Namun juga terkadang menjadi boomerang. Pola pikir kita pada umumnya akan memandang yang tampak mewah dan harganya mahal, sebagai bentuk produk yang pasti lebih baik. Sedangkan, dalam keseharian, banyak hal gratis yang bisa diambil sebagai proses pembelajaran yang terkadang tak disadari dan terlewat begitu saja. Kami juga perlu mengasah kepekaan sepertinya... Fiuh...
Selain Trust, yang gratis lainnya adalah Attention.
Bagaimana kita hadir dan berkegiatan bersama dengan memberikaan diri sepenuhnya kepada anak.
Berlomba dengan canggihnya teknologi saat ini, banyak informasi dan kesenangan yang didapatkan dari gadget, seperti chat dg teman, update status (juga cek status teman), jualan online, dll. Kadang tanpa sadar kita terlena sehingga mengambil perhatian kita dari anak.

Apabila full attention itu sudah kita berikan, maka apapun bisa dilakukan.
Ikatan batin menjadi lebih kuat dan ngobrol apapun bisa enak pastinya ya..
Dari ngobrol, apapun bisa diproses, bisa tahu minat anak, keinginan anak terhadap kita, bisa tahu apa yang dirasakan anak, bisa sharing apa yang sebenarnya kita ingin tanamkan, dan masih banyak lagi.

So?
"Trust - Full Attention - Communication"
Hmmm... aku dan Aji masih belajar berproses dengan ini juga :D

Seperti quote yang disampaikan dalam webinar:
"Apa yang dibutuhkan anak bukanlah kurikulum yang baru atau kurikulum yang lebih baik, melainkan sebuah dunia nyata dan akses yang luas dimana mereka bisa memaknai fantasi dan khayalan-nya dalam kehidupan mereka" (John Holt)

"Belajar adalah segala proses yang kita lakukan untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik dalam tataran pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan kualitas diri"
"Mainan yang disukai dan yang berharga di mata anak adalah oranguanya sendiri"
Selama ini, dalam memory kita, sangat lekat bahwa Belajar untuk anak itu Duduk Diam Dengarkan dan diukur menggunakan Mata Pelajaran dan Nilai.
Paradigma ini sebaiknya (baca: harus) kita rubah secepat mungkin, mengacu pada quote tentang belajar juga webinar sebelumnya plus banyak artikel edukasi yang bisa kita baca di internet.

Learning Process dibagi menjadi 4 tahap.
Learn to know, Learn to be, Learn to do, dan Learn to live together.
(berdasarkan artikel di UNESCO, sedangkan di Buku Unschooling Rules hanya 3)

Learn to Know: 
transfer ilmu, berbagi wawasan, bertukar pikiran, cari tahu dari media lain
Learn to Be: 
mengenal diri sendiri, mengenal diri anak, apa yang disukai, apa yang tidak disukai, apa hobinya, apa yang bisa dia kontribusikan untuk keluarga, kontribusi untuk lingkungan, dll
Learn to Do:
berkaitan dengan ketrampilan, melakukan kegiatan hobi, melakukan eksperimen untuk menindaklanjuti pengetahuan yang sudah ada, melakukan latihan untuk mencapai level tertentu, mencoba secara langsung ketika ingin tahu sesuatu
Learn to Live Together:
berkaitan dengan interaksi orang lain, berorganisasi/berkegiatan dengan kelompok, melakukan hobi bersama orang lain, berkomunikasi dengan baik kepada orang lain di segala usia, dll


PR kita adalah melibatkan keempat learning process ini dalam keseharian kita.
Dari learning process ini, kita bisa menilai hard skill dan soft skill anak.
Hard Skill misalnya kemampuan atletik, ketrampilan menggunakan komputer, kemampuan menyetir, merapikan rumah, menggunakan pensil warna untuk menggambar atau membuat desain, dll.
Soft Skill misalnya kemampuan dalam mengatur waktu, peka diri, peka situasi, peka sosial, dll.
Dan ditambah dengan terjalinnya hubungan yang baik, kurasa kita bisa sama-sama belajar untuk menanamkan hal-hal baik kepada anak.

Proses pembelajaran adalah apa yang dialami anak, bukan seberapa besar usaha orangtua menyiapkan segala sesuatunya tanpa berdiskusi dengan anak, tanpa tahu apa yang diinginkan anak.
Karena ukuran keberhasilan kita, terutama dalam HS, adalah kesenangan anak dalam belajar.
Indikatornya mudah menurutku. Begitu melihat mata anak berbinar, heboh, dan banyak pertanyaan, artinya dia sangat berminat dengan apa yang ada di depan matanya. Ketika anak bersemangat artinya dia tertantang, maka dia akan melakukan apa saja untuk memuaskan keingintahuannya. Ketika dia berhasil mengetahuinya, atau lebih dari itu, ketika dia berprestasi atas usahanya sendiri maka akan muncul rasa bangga yang luar biasa sebagai energi positif yang bisa ditularkan ke berbagai hal.
Momen ini disebut ruang pembelajaran yang accidental dimana kita harus jeli dan segera hadir didalamnya. Dimana ada proses pembelajaran lain, yaitu by design atau yang direncanakan dan dengan waktu khusus.

Contoh kegiatan sederhana keseharian yang bisa menjadi pembelajaran:
- duduk bersama di pinggir jalan
untuk anak 4-6thn, bisa diajak untuk hitung jumlah mobil, jenis mobil, warna mobil, jumlah orang
untuk anak 7-10thn, bisa diajak untuk jumlah per kelompok, per hari, per warna, dan buat grafik
untuk anak 11-13thn, bisa diajak untuk membuat statistik, membuat hitungan yang lebih kompleks
- memasak bersama di dapur
untuk anak 4-6thn, bisa diajak untuk cuci & potong sayur, aduk telor, memberi garam/tepung, dll
untuk anak 7-10thn, bisa diajak untuk mengiris sayur/bumbu, memasukkan bumbu, dll
untuk anak 11-13thn, bisa diajak untuk menginterpretasikan resep menjadi masakan jadi, dll
- bersih-bersih rumah
untuk anak 4-6thn, bisa diajak untuk mengelompokkan mainan/barang miliknya ke kardus, merapikan kamar, melipat baju, dll
untuk anak 7-10thn, bisa diajak untuk sortir barang yang sudah tak terpakai, merapikan kamar, menyapu ruangan lain selain kamar, mengepel, me-lap barang yang kotor, dll
untuk anak 11-13thn, bisa diajak untuk membantu orangtua untuk merapikan ruangan lain seperti dapur, ruang tengah, gudang, mengepel dan me-lap lemari, dll

Masih banyak proses belajar melalui keseharian.
Ketika di kamar mandi, main air sambil ngobrol tentang proses air atau bentuk air.
Ketika di kamar tidur, membahas buku cerita yang sedang dibacakan.
Ketika sedang menyiram tanaman, bisa cerita tentang struktur pohon, fungsi pohon, proses hidupnya.
Dan lain sebagainya. Dimana saja, Kapan saja, Dengan siapa saja.

Jadi kalo boleh aku simpulkan, poin penting dari semuanya adalah:
  1. Trust, bebaskan anak bereksplorasi dengan kepercayaan dan awasi dari jauh
  2. Full Attention, kehadiran kita sangat penting dan perhatian penuh kepada anak
  3. Communication, bicarakan apa saja dengan anak dan tatap matanya
  4. Lebih peka akan kesempatan ruang pembelajaran yang ada
  5. Sesuaikan dengan mood anak, Fun is the most important
  6. Pancing ketrampilan bercerita apa yang anak alami, kemudian bernarasi dan presentasi
  7. Ajak anak untuk menuliskan kembali apa yang diketahui 
  8. Bijaksana dengan windows of learning, menjawab secukupnya
  9. Ajak anak untuk mengetahui sumber pengetahuan dan ketrampilan
  10. Mengarahkan kepada anak bahwa sesuatu yang baik itu akan menjadi keuntungan bagi dirinya 


Wow!
Mantab ya poin mendasar yang sebaiknya kita tanamkan dalam pola pikir kita.

Tetap semangat tentunya..
Lha tujuannya juga demi kebaikan bersama.. :)


-Tuhan Memberkati-

Thursday, October 24, 2013

KlubOASE: Pramuka - Tali Temali

Setelah 2x absen kegiatan Pramuka, akhirnya bisa join lagi.
Kegiatan Pramuka hari Rabu 23 Okt 2013 ini mengambil tema Tali-Temali.

Masih tingkat dasar, tali-temali yang diajarkan kakak pembina adalah simpul jangkar dan simpul pangkal.

Dari artikel: http://fatroh.wordpress.com/2013/04/06/mengenal-tali-temali-pramuka/
Simpul pangkal adalah simpul yang paling penting dalam mengikat maupun jika kita ingin membuat sebuah profil bangunan . Kegunaan simpul pangkal ialah untuk memulai dan mengakhiri sebuah ikatan.
 http://fatroh.files.wordpress.com/2013/04/pangkal.png
Simpul jangkar gunanya untuk mengikat jangkar atau benda lainnya yang berbentuk ring, akan tetapi mudah untuk melepaskannya kembali. Juga dapat digunakan untuk membuat tandu darurat.



http://fatroh.files.wordpress.com/2013/04/jangkar.png


Abi kelihatan penasaran ketika dijelaskan dan diminta mencoba praktek langsung.
Sebagai "murid" terkecil, Abi lumayan... xixixi...
Walaupun tetap harus diarahkan. Ini pengalaman pertama untuk Abi bertali-temali dengan serius.
Mukanya serius beneran! :p





Puas dengan tali-temali, Abi langsung deh lari sana-sini di "kebun" pramuka ini.
Minta dibantu untuk meniti palang bambu, dibantu untuk memijakkan kaki di tali dan kemudian diayun. Sayang yang ini gak bisa motret.
Trus game terakhir, adalah ayunan ban karet....
Adanya cuma disini, jadi Abi seneng banget kalo ke rumah inspirasi, yang dicari ayunan karet.


Sayang kemarin banyak yang berhalangan hadir karena sakit.
Semoga cepat sembuh ya teman-teman.. dan bisa berkegiatan bersama kembali.

-Tuhan Memberkati-

Sunday, October 20, 2013

Webinar#3 - Pembelajar Mandiri

Pembelajar Mandiri...
Hmmm.. Aku sempat bertanya-tanya dalam hati, "Apa ya maksudnya tema webinar ketiga ini?"
Yang jadi pembelajar mandiri itu anaknya, orangtuanya atau bersama-sama?

Dalam HS, anak diarahkan menjadi pembelajar mandiri, karena dia akan belajar apapun yang dia ingin ketahui yang dia minati untuk didalami. Namun sepertinya, atau paling tidak menurutku, tidak hanya anak yang akan berpredikat sebagai pembelajar mandiri. Orangtua pun secara tak langsung akan melakukan banyak hal untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana cara mendukung/membantu anaknya, maka orangtua jadi pembelajar mandiri juga.
Istilah yang lebih terkenal dari pembelajar mandiri adalah autodidak.

Inti dalam menjalankan HS adalah anak nyaman dengan orangtua, begitupun sebaliknya. Hal ini adalah syarat yang sangat penting dalam menjalankan HS.
Terkadang memang orangtuanya yang terlalu semangat, dari yang galau belum tahu tentang HS kemudian cari sana sini semuanya diunduh dan dibaca sampai akhirnya malah bingung dan kemudian malah menjejalkan banyak materi ke anak sehingga hubungan yang baik menjadi tidak terjalin.

Awal dulu aku sendiri sempat galau dan kegilaan mengumpulkan materi. Memang benar-benar dari nol dan sangat blank .. apa itu HS... Namun makin kesini, banyak ketemu praktisi HS, banyak baca juga, kita memang harus pintar-pintar memilah apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan anak kita.
Karena memang benar, semua kembali pada karakter keluarga masing-masing.

Proses menuju pembelajar mandiri adalah proses "long marathon".
Biasanya sebelum usia 12 tahun, kita orangtua adalah dikenal anak sebagai sumber ilmu, pastinya kita bisa memberikan jawaban yang diminta anak .. tapi apabila anak belum puas kita bisa mengajaknya mencari jawaban yang lebih banyak melalui media lain, entah itu internet, buku, praktek langsung, atau ketemu dengan orang-orang kompeten untuk menjawabnya.

Pengalaman kami yang terjadi saat ini, kami membebaskan Abi dan berusaha memancing keingintahuannya dengan bertanya. Ya pada akhirnya Abi menjadi anak yang banyak tanya sampai-sampai kami terkadang speechless dan kemudian wajib mengajaknya untuk googling atau cari tahu di buku jawaban yang diperlukan, atau kadang menonton video.
Salah satu pertanyaan Abi dari berbagai pertanyaan menggelitik adalah:
"Wah kalo manusia melahirkan itu di Rumah Sakit. Kalo hewan itu kok bisa langsung keluar aja gitu ya, hebat ya.. Kenapa kok bisa gitu?"

Sementara ini baru sebatas itu proses kami ber-HS dengan Abi.
Untuk menuju ke pembelajar mandiri setiap keluarga sebaiknya menciptakan budaya belajar secara natural sehingga dorongan belajar muncul dari dalam/dengan sendirinya.
Kunci dalam menciptakan budaya belajar adalah: kaya stimulus, interaksi demokratis, respon sehat, sistem yang konsisten, dan ruang luas untuk eksplorasi. 
Seperti rangkuman di webinar sebelumnya (bisa dilihati disini), bahwa PR besar kami adalah termasuk lebih kreatif lagi dalam menciptakan budaya belajar dalam keluarga kami.

Kelebihan dari pembelajar mandiri ini adalah anak akan belajar dengan sendirinya.
Setiap anak memiliki motivasi untuk mempelajari semua hal yang ingin diketahuinya.
Kenapa dia mau belajar, karena dia ingin.
Kenapa dia ingin belajar, karena dia suka.
dan pada akhirnya,
Kenapa dia bersedia bekerja keras, karena dia menikmati prosesnya.

http://project-based-homeschooling.com/how-to-start-a-project-group


Tips membangun Budaya Belajar adalah:
1) membuat orientasi jangka panjang, 2) menciptakan kegiatan kecil bertahap, 3) kegiatan yang diulang-ulang, dan 4) membangun koridor.

Kita sebagai orangtua bisa membangun ketrampilan belajar anak, yaitu seperti ketrampilan bertanya, ketrampilan membaca, ketrampilan mencari informasi, ketrampilan menggunakan alat belajar, dan ketrampilan mengemukakan pendapat.

Untuk semakin "meneguhkan" proses yang kami jalani saat ini adalah dengan membuat Family Plan, bahwa rencana besar untuk Abi adalah Abi tau apa yang harus dia lakukan, berikut konsekuensi dan tanggungjawabnya. Dari situ kami tarik mundur, hal-hal simpel apa dulu yang harus kami tanamkan, bukan hanya sekali namun berulang hingga menjadikannya kebiasaan.
Didalamnya terjadi juga banyak negosiasi dan kesepakatan antara kami bertiga, yang terpenting adalah semuanya sebisa mungkin dikomunikasikan (diceritakan).
Dalam hal pekerjaan rumah, Abi juga sudah mulai kami libatkan dengan porsi membantu sebagian seperti memasukkan pakaian kering bersih, meletakkan pakaian kotor pada tempatnya, meletakkan piring/gelas kotor pada tempatnya, membuang sampah rumah ke depan untuk bisa diambil tukang sampah, menyiram tanaman, mencuci mobil.

Memang proses belajar itu juga diperoleh dari keteladanan juga keterlibatan. Anak akan sangat mudah dan senang melakukannya. Apalagi jika kita sering berkegiatan bersama sambil anak ditanamkan makna dan alasan kegiatan tersebut harus dilakukan.

Semakin kuat lagi kami menjalani HS..
Semakin hari.. Semakin semangat..
Terimakasih Pak Aar dan Mba Lala.

Semoga rangkumanku dari hasil webinar#3 ini dapat memberi "pencerahan" bagi yang memerlukan.
Untuk lebih jelas lagi tentang webinar, bisa mengunjungi: http://rumahinspirasi.com/webinar-homeschooling-ii-2013/


-Tuhan Memberkati-

Friday, October 18, 2013

Thank You Mom & Dad

"Kami memang belum setuju... Tapi kami mencoba memahami..."

Respon yang ajaib dari kedua orangtua kami perihal segala hal yang terjadi dalam keluarga kami termasuk juga keputusan homeschooling untuk Abi.

Tetap pada isu sosialisasi yang ditekankan, dan kekuatiran bahwa di negara Indonesia HS ini masih belum lazim, sehingga akan tampak "seorang diri" dalam proses menjalaninya dan akan lebih mudah dipandang aneh .. mungkin lebih tepatnya begitu maksud beliau.

Kami pun sangat memahami apabila langkah yang kami ambil memang belum sejalan dengan apa yang selama ini mereka pahami.
Namun, paling tidak, kami sudah lega, semuanya sudah terbuka.
Kami juga paham bahwa kekuatiran mereka adalah untuk kebaikan kami.

Tugas kami selanjutnya adalah tetap berpegang teguh pada pelaksanaannya dan menunjukkan hasil yang sesuai dengan apa yang menjadi bakat dan minat Abi, yang semoga sekaligus nantinya bisa meluluhkan hati para eyangnya hehehe....

Semoga selalu lancar. Amin.

-Tuhan Memberkati-

Tuesday, October 15, 2013

Back to Day1 - After Day83

Hiks.. Yes I did yell yesterday..
I was sick, headache and all my bone is sick.. I need to rest, that was what I am thinking at the moment. And then unrealized.. I just yelled :( to Abi which made him so so sad..
I am so sorry darling..

Apa mau dikata..
Menyesal tiada guna..
Lebih baik memperbaiki yang ada..
Menjadi lebih berkualitas dan berguna..

Setelah minta maaf sama Abi, dan Abi menerimanya, kami pun kemudian berkegiatan bersama kembali semampuku. Berhubung hanya ada kami berdua di rumah. Jadi mau tak mau kami lah yang harus saling membantu.

Semoga momen ini bisa kami jadikan pelajaran bermakna dalam menanamkan nilai-nilai yang baik dalam keluarga, tidak cuma ke Abi saja, namun juga ke kami, mamapapanya.


-Tuhan Memberkati-

Sunday, October 13, 2013

Webinar#2 - Model & Metode Homeschooling

Hari Kamis, 10 Oktober 2013 kemarin merupakan webinar kedua dari rangkaian program webinar yang diselenggarakan rumahinspirasi.com.
Hasil rangkuman webinar pertama tentang pengantar homeschooling bisa dilihat disini.
Kali ini, topik yang diangkat adalah "Model dan Metode Homeschooling".

Ternyata banyak sekali model dan metode homeschooling [selanjutnya aku sebut HS] yang "beredar" di kalangan masyarakat. Lebih "ramai" sih di mancanegara ketimbang di Indonesia.
Horee.. aku bertambah pengetahuan lagi. Jempol deh mba Lala dan pak Aar.

Kembali pada pengertian awal, bahwa HS adalah pendidikan berbasis keluarga. Yang disebut HS itu ya keluarga itu sendiri. Jadi ingat obrolanku dengan tetangga ketika belanja ke tukang sayur di perumahan
T: "Abi belum sekolah ya, kok gak pernah keliatan pergi ke sekolah gitu, bukannya dulu sekolah?". A: "Iya, uda gak sekolah formal lagi. Sekarang sekolah di rumah sama aku hehehe..."
T: "Oh itu ya homeschooling .. emang bisa gitu ya homeschooling sendiri.. sama siapa gurunya?"
A: "Ya sama aku aja main-main gitu..."

Dan dilanjutkan dengan berbagai respon para ibu yang sedang belanja disitu, seperti:
"Ah kamu gak sayang n kasian sama anaknya? Kok gak disekolahin"
"Sini aja, aku ajarin, aku bisa lah jadi guru TK gitu.. gampang.."
Aku hanya tersenyum.. Dan makin sumringah ketika Abi nyeletuk,
"aku belajar sama mama papa aja tante..."

Ilustrasi di atas hanya ingin menggambarkan bahwa memang lebih banyak yang belum mengetahui definisi tepat tentang HS, lebih-lebih model dan metodenya yang sangat bervariasi.
Saat ini, aku sudah mulai bisa memahami, bahwa dalam proses pendidikan aspek terpenting adalah cinta, perhatian, dan dukungan kita dalam menemani perkembangan anak. Apalagi ketika usia anak masih di bawah 6 tahun. Kemudian, ketika sudah memutuskan HS, PR BESAR kita sebagai orang tua (kepala sekolah) adalah untuk merumuskan apa yang penting dan model yang terbaik untuk anak.

Setelah mengikuti webinar kedua ini, aku baru "ngeh" .. (ini sepenangakapan aku ya.. hehe..)
bahwa kami menerapkan Unschooling ke Abi, tapi tetap dengan arahan sih...
Di samping usia Abi yang masih 4tahun 8bulan, dimana menurut kami belum saatnya untuk belajar dengan jadwal ketat, kami memang mempunyai tujuan untuk mengamati kemana arah minat/kesukaan Abi.

Model UNSCHOOLING ini adalah model HS yang sangat tidak terstruktur.
Menurutku, model ini cocok untuk anak di bawah 7 tahun.
Dalam hal ini, anak diperlakukan sebagai individu dan dibiarkan mempelajari sesuatu secara natural.
Dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan ketika bisa bereksplor bebas, pasti anak akan belajar banyak hal. Baik itu melalui kegiatan sederhana sehari-hari, maupun ketika ada kegiatan/acara lain di tempat lain bersama orang lain.
Nah, hebatnya.. kita harus bisa mendukung anak dengan memberikan stimulus yang sangat kaya.
Kita harus lebih terbuka untuk segala informasi/pengetahuan baru yang kemudian bisa memancing atau mengeluarkan pertanyaan anak untuk proses pembelajaran yang disukainya.
Kami sendiri masih harus lebih kreatif, harus belajar lagi untuk memperkaya ide stimulus :D
Selain itu memang modal yang penting adalah kesabaran.
Dari sisi penilaian sudut pandang, kami mengacu pada apa yang pernah dikatakan Bu Ellen Kristi pada saat kuliah umum bulan lalu (bisa dilihat disini). Bahwa semakin banyak bidang yang diminati anak dan dia mencintai bidang itu tanpa paksaan, maka berhasillah kita sebagai orangtua.

http://davezak.com/lip/2011/09/15/unschooling-and-informal-learning-models/
Aku sangat tercerahkan dengan Tips Unschooling yang tertulis dalam www.sandradodd.com ini.
1. Let Go and Trust, memberikan keleluasaan kepada anak namun penuh tanggungjawab.
2. Joy and Connection, menciptakan suasana hangat dalam keluarga dan hubungan terjalin erat.
3. Being a Better Person, menjelaskan tentang norma baik (suba sita dan tepa slira) dan hukum alam.
4. Tools for Daily Life, mendukung perkembangan diri, tingkat PD, minat/bakat untuk masa depan.

Keempat hal ini kurasa telah "dilupakan" banyak orangtua.
Terkadang begitu banyak keharusan yang harus dilakukan anak demi kepentingan orangtuanya.
"Jangan ini.. Jangan itu.. Harus begitu.. Harus begini.."
Padahal justru hal ini merupakan proses perkembangan diri anak menjadi lebih dewasa.

Selain model Unschooling, ada model School-at-Home.
SCHOOL-AT-HOME (selanjutnya aku sebut SAH) ini bisa dikatakan "lawan" dari Unschooling.
Model SAH ini terstruktur. Seolah-olah memindahkan proses kegiatan di sekolah ke rumah.
Dibandingkan dengan Unschooling, model ini memang lebih familiar. Bisa dikatakan lebih mudah, karena ada kurikulum, ada tingkatan, ada materi, sehingga bisa diukur nilai keberhasilannya.
Selebihnya kita bisa memodifikasi untuk lebih membuat anak bersemangat untuk belajar.
  • Kurikulum yang digunakan bisa mengacu pada kurikulum nasional, dengan mengikuti ujian paket yang diselenggarakan oleh PKBM di kota terdekat, atau bisa juga mengikuti kurikulum mancanegara seperti Cambridge, LessonPathways, Time4Learning, Ambleside Online, ACE.
  • Materi berbasis mata pelajaran dengan tingkatan yang pasti dari K1-K12, yang kemudian akan dievaluasi secara periodik. 
  • Tools untuk materi bisa menggunakan buku, video, internet, main game, tebakan, magang, dll.
  • Pendukung luar bisa dengan internet, tutor, bimbel, dll.
Peran orangtua di SAH ini adalah harus rajin menyusun agenda harian yang lengkap dan mencakup seluruh materi yang harus dipelajari oleh anak. Termasuk dalam membuat kesepakatan, pemilahan jadwal, berkomunikasi dengan baik, dan bersikap fleksibel dalam segala situasi.
Orangtua harus punya dasar kuat bahwa tujuan belajar disini adalah bagaimana hal-hal yang dipelajari bisa digunakan untuk keseharian, bukan hanya nilai bagus.
Memang, SAH ini lebih dekat dengan pemerintah dan sarana pendukung lebih lengkap.
Sebagai support yang lebih menguatkan, orang tua pun sebaiknya berjejaring luas untuk membukakan pintu anak dalam proses mengenal dunia nyata.

Masih ada model Classical, model Charlotte Mason (CM), model Montessori, dan Model Ecletic.

Model CLASSICAL ini banyak diterapkan di Amerika. Di Indonesia sendiri tidak banyak.
Hampir seperti model jaman peradaban Yunani/Romawi: intelektual, terstruktur, logika, retorika.
Biasanya dipakai untuk anak dengan usia 7 tahun ke atas, mulai K1.
Diawali dengan proses mengenal dan mempelajari grammar, kemudian tingkatan dimana anak boleh menanyakan segala sesuatu dari yang dipelajarinya, dan berakhir pada belajar membangun argumen.

Model CM, seperti yang dijelaskan di kuliah umum Bu Ellen Kristi, bahwa yang terpenting adalah ide dan gagasan anak karena ide/gagasan ini adalah virus, apabila terkena bisa langsung menancap dan kemudian berlipat ganda. Sehingga sangat diutamakan adalah memancing ide besar, imajinasi besar, gagasan besar, inspirasi besar.
Proses pembelajaran model CM ini melalui buku, yang disebut Living Book.
Living Book adalah buku yang dinilai dapat membangun imajinasi besar pun menyelami hal besar.
Kemudian anak akan dilatih untuk bernarasi, menceritakan kembali isi dalam buku tersebut sebagai proses pembelejarana konsetrasi.
Selain itu, CM juga fokus pada habit training, yaitu penanaman kebiasaan baik sebagai proses pembentukan karakter anak.

Sedangkan Model MONTESSOURI, sangat berbeda dengan CM.
Montessouri sangat mengutamakan apa yang ditangkapa oleh indera manusia. Bukan ide/gagasan.
Juga lebih fokus kepada anak, sehingga orangtua hanyalan menyediakan lingkungan proses pembelajaran saja. Materi belajar didesain sesuai kebutuhan anak dengan dilengkapi banyak miniatur.
Aku lihat di beberapa sekolah banyak yang mencanangkan model Montessouri ini di spanduk. Entah dengan pelaksanaannya.

Lalu .. ada juga Model ECLETIC.
Hmmm.. sepertinya kami akan mengacu kesini nantinya xixi..
Model ini adalah Mix and Match dari semua model yang ada.
Seru kayaknya! :p

Pastinya, amati kebutuhan anak, uji coba model HS, praktekkan dengan konsisten, dan lihat hasilnya.
Apabila belum cocok, kita harus kreatif mencari ide, pemikiran yang kritis dan masuk akal, kembali kepada visi-misi dan nilai dalam keluarga, dan mengamati apa yang membuat anak bersemangat juga keluarga bertumbuh.
  
Indikator penting ketika anak kita bersemangat adalah.. MATA BERBINAR..
Hal ini tak dapat tergantikan oleh apapun. Semangat, gairah, dan minat juga ketekunan akan bergabung didalamnya untuk mempelajari sesuatu lebih mendalam dan menjadikannya Expert.

Begitu sekilas pemahamanku tentang webinar kedua kemarin.
Semoga bisa cukup "mencerahkan" bagi yang masih meraba-raba hehehe...
Untuk lebih detil lagi bisa mengunjungi http://rumahinspirasi.com/webinar-homeschooling-ii-2013/



-Tuhan Memberkati-

Thursday, October 10, 2013

Bantu Mama Masak & Found Catterpillar

Menu hari ini adalah ikan dan sayur rebusan, seperti pecel.
Setelah ritual pagi, sepagian Abi asyik dengan mainan mobil-mobil dan lego yang disusun menjadi sebuah kota imajinasinya. Dan pastinya aku ikut bermain menyusun sana sini juga haha...

Saatnya menjelang siang, aku ijin ke Abi untuk masak dan memancing apakah Abi mau bantu.
Eh ternyata mau.. Wah senangnya..
So, kami bagi tugas.
Aku goreng ikan yang sudah aku rendam bumbu sebelumnya, potong-rebus-goreng kentang, potong timun dan wortel, dan buat sambal. Sedangkan Abi mencuci bayam dan memotong daunnya.







Aku amati, Abi bisa fokus memetik daun bayam.
Hasilnya bagus! "Wah mas Abi hebat sekali, petik daun bayamnya pinter deh!", pujiku.
Abi mesam mesem deh.

Setelah semua sayur selesai direbus, diatur di piring saji.
Taraa.. jadi deh menu makan kami. Bawal goreng dan Sayur Rebus plus Sambal.

Syukurlah, Abi pun lahap makannya.


Sorenya, kami melanjutkan cerita tentang kota yang dibuat Abi tadi.
Lah, masak kata Abi, sudah sore lalu ada hujan badai dan berantakanlah semuanya.
Aah aku tauu... Itu hanyalah alasan untuk melakukan aksi obrak-abrik wkwkwkw..
Semacam 'gong' ketika permainan telah usai. Ada-ada aja memang Abimanyu-ku.


Kami pun berkegiatan di luar rumah, istilah kerennya "outdoor activity".
Apa kegiatannya? menyiram tanaman, menyapu carport dan teras, nyicil potong rumput dan akhirnya Abi main air deh.. xixixixi..

Pas siram-siram, kami menemukan ulat (caterpillar) di pohon ketapang.
Ulat coklat yang punggungnya seperti berpunuk. Aku tanya Abi apakah mau dipelihara.
Maksud hati untuk pelajaran memelihara hewan, sekaligus bisa melihat proses jadinya kupu-kupu.
Aku masukkan ulat ke toples bekas selai, dan memberi beberapa daun.
Sengaja tidak aku tutup toples nya, takut si ulat kurang oksigen. Dan aku tetap taruh di luar rumah supaya si ulat tetap melihat pemandangan luar/alam.
Sayangnya... hari ketiga ulatnya menghilang ... Hahahaha... keluar dari toples sepertinya..
Hiks.. gagal deh..



Gakpapa lah..
Besok pasti bisa menemukan hal seru lagi untuk dipelajari.
Untungnya Abi bisa mengerti ketika dijelaskan... Fiuh...

-Tuhan Memberkati-


Wednesday, October 9, 2013

KlubOASE: Reading Club-Story Telling

Kegiatan reading club di dalam klub OASE pun direalisasikan hari ini untuk pertama kalinya di rumah Ibu Ari (anaknya: Adrian), di Kayu Putih.
Sebagai kegiatan pertama, tema yang diambil adalah "show and tell".

Anak-anak diminta untuk membawa buku favorit atau buku yang sedang dibaca. Kemudian nanti setiap anak belajar bersama untuk menceritakan isi buku tersebut.
Khusus anak di bawah 6 tahun, bisa ditemani atau diarahkan oleh orang tuanya.

foto dari klubOASE
Lucu dan salut melihat anak-anak ini mau mencoba, termasuk Abi.
Abi dengan terpatah-patah pun berhasil menceritakan isi cerita yang sedang dibacanya.
Sayangnya Abi cuma bawa buku satu. Itupun yang diprint sendiri xixixi...
Teman-teman bawa beberapa buku untuk ditunjukkan, dan diceritakan salah satu.
Seru banget buku-buku yang dimiliki mereka.




mengagumi map game yang dibawa teman


foto dari klubOASE

Setelah selesai bercerita, kami bisa saling meminjam buku dengan prosedur yang disepakati.

Si peminjam mendatangi Si empunya buku, lalu bertanya "bolehkah aku meminjam bukumu?", lalu berlanjut dengan kapan harus mengembalikan, dan diakhiri dengan terima kasih.

Semua mencoba melakukan prosedur ini dengan benar dan baik.
Latihan juga kan? Bagaimana etika meminjam dan belajar kesepakatan.

Abi pinjam buku Planes milik Yosua. 




Dan yang paling ditunggu-tunggu... BERENANG!!!

Uda seru bercerita dan saling meminjam.. juga foto-foto..

Anak-anak langsung ganti baju renang dan Byur!! .. uda pada di kolam renang semua.. :D






Sampai jumpa di kegiatan reading club selanjutnya!

foto dari klubOASE



-Tuhan Memberkati-

Tuesday, October 8, 2013

Strecthing, Tracing with Playdoh, Coloring, Get-Wet

Strecthing merupakan kegiatan baru yang mulai kami praktekkan bersama.
Sebenarnya PapaAbi lebih rutin dalam hal ini.
Jadi ketahuan deh siapa yang agak males .. xixixi ...

Aku memaksakan diri sendiri untuk strecthing. Begitulah, kadang karena jadi FTM trus merasa sudah mondar-mandir dengann pekerjaan rumah berasa capek dan merasa sudah berolahraga.
Itu mah alasan yaa... :)

Take action! Start from today!
Aku sudah diskusikan ke Abi malam sebelumnya dan dia setuju.

Strecthing kami lakukan di teras, sambil menikmati sinar matahari pagi dan mendengarkan musik yang berjenis relaxation. Gerakannya pun cukup sederhana. Aku masih menyesuaikan kemampuan Abi. Tujuan utama adalah supaya aliran darah lancar, otot dan pelumasnya bekerja dengan baik, tulang terjaga kekuatan dan kelenturannya.

Hari ini aku ajak Abi untuk tracing huruf X dengan menggunakan playdoh yang kami punya.
Aku dapat ide dari salah satu blogger mancanegara yang selalu sharing tentang keseharian mereka sebagai praktisi homeschooling, bisa klik disini webnya.
Dari web ini aku mencoba print worksheet lalu membaca cara main dan praktekkan ke Abi.
Ternyata Abi suka juga..




Ada juga worksheet untuk coloring. Masih dengan huruf yang sama.
Mengerjakan worksheet hanya aku praktekkan sesekali ke Abi.
Huruf pun aku tidak mengenalkan secara berurutan dalam worksheet.
Kalo nyanyi A-B-C sih iya... sambil becandaan biasanya..

Yang surprise buatku adalah..
Abi bisa mewarnai jauuuuh lebih rapi ketimbang 6 bulan yang lalu.
Padahal sebelumnya .. lama banget aku tidak ajak dia mewarnai.
Jadi ingat dulu ketika Abi masih sekolah formal, aku selalu diingatkan oleh guru untuk rajin mengajarkan Abi pegang pensil dan mewarnai. Xixixi.. tapi aku tidak melakukan itu.





Sorenya..
Outdoor time!
Setelah siram tanaman dan cuci mobil.. langsung "cring!"

"Aku ada ide Ma...", kata Abi.
Abi ambil mobil mainannya dan ndeprok (bahasa jawa, baca: duduk di lantai)
Serasa uda posisi wenak banget.. hehehehe..
Tak lama terdengar Abi berceloteh ria sendiri

Sementara beberapa orang yang lewat akan berkomentar "eeh.. kok main kotor-kotor gitu.."
Hahahaha... Maap Bu.. ini memang lain dari yang lain.. :p


-Tuhan Memberkati-

Monday, October 7, 2013

Gunting, Tempel, 'Betadine' Coloring

Kebetulan menemukan worksheet lucu di salah satu website blogger homeschooler.
"Seru juga nih!", pikirku.
Salut beribu salut aku haturkan kepada para FTM homeschooler yang sempat merencanakan, membuat, dan membagikan worksheet lucu di web/blog nya. Seolah mereka tidak pernah tidur.

Aku print worksheet tema Sofia the First.
Abi memang sedang menikmati menonton film ini. Sepertinya dia suka dengan film kerajaan ada putri dan pangeran, ratu dan raja, peri dan penyihir..

Di worksheet ini ada beberapa kegiatan yang bisa diarahkan untuk melatih motorik halus Abi.
Ada menggunting, memberi warna dengan cara lain, dan menempel.
Kali ini aku ajak Abi mewarnai dengan betadine.
Sekalian sih maksudku, untuk memberi persepsi baru dari persepsi takut dia terhadap betadine ketika luka yang perlu diobati dengan betadine. Bahwa betadine itu cairan yang berwarna walaupun punya fungsi juga untuk menyembuhkan luka kecil.

Awalnya Abi takut-takut pegang betadine bahkan kena cairannya sekalipun.
Aku coba diamkan .. Aku tidak mau membuat Abi merasa tertekan ..
Sesekali aku tinggal Abi melakukan kegiatan itu sendiri .. Syukurlah Abi bisa mengelola takutnya.



-Tuhan Memberkati-

Saturday, October 5, 2013

Nyanyi dalam Air

Keisengan Abi pas mandi kemarin..
Setelah melakukan ritual mandi - sabun badan, cuci rambut, sikat gigi - sendiri
Katanya "Maa..Maa.. aku mo nyanyi di dalam air"




Abi nyanyiin lagu les JMC Yamaha-nya hahaha...
> mi mi sol
> mi mi sol
> re re fa fa mi
> mi mi sol sol
> mi mi sol sol
> re re sol sol do (di sini sol nya agak ketarik kayaknya xixixi..)



Memang jago iseng..
But it was great boy!

Iseng terus ya nak.. xixixi...


-Tuhan Memberkati-

Thursday, October 3, 2013

Webinar#1 - Pengantar Homeschooling

Hari ini ..
Bertambah pengalaman lagi ..
Rasanya senaaaang sekaliii :D ..

Aku ikut webinar yang diadakan oleh Mba Mira Julia dan Pak Aar Sumardiono dari www.rumahinspirasi.com.
Keluarga ini bisa dikatakan panutan para HS-er terutama para pemula, termasuk aku.
Mereka setiap tahun dengan berbesar hati berbagi ilmu kepada semua saja yang berminat untuk mengenal dan mengetahui seperti apa dan bagaimana sebenarnya homeschooling itu.

Hari ini adalah hari pertama, dengan materi "Pengantar Homeschooling".
Seru banget ternyata.. berkenalan dengan banyak orang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia bahkan ada yang tinggal di luar negeri juga. Salut kepada mereka yang tak henti-hentinya menambah pengetahuan dengan semangat.

Ruang kelas webinar sangat mudah diakses.
Puji Tuhan malam ini sangat lancar dan jelas mendengarkan suara renyah Mba Lala yang cocok jadi penyiar radio dan Pak Aar yang tegas xixixi...
Bisa saling ngobrol di chat box dengan mudah pula, pokoknya asyik banget.

Pengantar yang diberikan Pak Aar sangat membukakan mata.
Ini baru awalnya lho ya.. Baru hari pertama..
Masih ada beberapa kali webinar yang akan membahas lebih detil seputar homeschooling.

Aku bilang ke Abimanyu tadi, "Mas, nanti Mama mau kuliah di internet dulu ya sama Tante Lala dan Om Aar, itu lho mama papa nya Mas Yudhis (yang diingat Mas Yudhis)"
Abi-nya manggut-manggut, bahkan sempat ikutan nimbrung, mendengarkan dengan earphone, sebelum beranjak ke kamarnya untuk tidur.


Let's start the class.. :)

Homeschooling.. hmmm..
Benar sekali yang diungkapkan Pak Aar, bahwa pengertian homeschooling kebanyakan orang di sekitar kita ternyata masih kurang tepat. Ya karena aku mengalaminya.
Begitu mendengar kata homeschooling dan penjelasan singkat itu belajar di rumah, langsung tanya bagaimana sosialisasinya.
Isu yang pertama dalam hal ini dan paling alot untuk dibicarakan jika persepsinya masih berbeda.

Yang paling utama mendasari kita dalam mengambil keputusan apapun, adalah sebuah ALASAN.
Termasuk dengan Homeschooling. Pak Aar juga menyampaikan bahwa kita harus bisa menggali lebih dalam lagi bersama pasangan ALASAN apa yang mendasari kita untuk mengambil jalan Homeschooling ini. Yang mana bisa dikatakan, ini adalah jalan yang tidak umum, tidak biasa.
Pastinya diperlukan perjuangan, kekompakan, dan semangat dalam menjalani sesuatu yang tidak dilakukan kebanyakan orang, atau melawan arus.

Kami sendiri punya alasan kuat untuk "mengenal" Abi lebih dalam dan sangat ingin terjun langsung membantu Abi mengeksplorasi kehebatannya. Mengingat perjuangan kami untuk berkumpul. Walaupun awalnya kami tetap mencoba mengikuti sistem pendidikan formal dengan harapan yang telah kami bangun sebelumnya. Namun justru faktor luar inilah yang membuat kami makin yakin untuk menjalani homeschooling.

Jadi, kembali lagi.. [malah curhat ya tadi..hehe..]
Homeschooling itu adalah pendidikan alternatif.
Homeschooling itu adalah pendidikan berbasis keluarga, bukan lembaga.

Setiap keluarga memiliki hak sebagai warganegara dan sebagai individu untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.
Setiap keluarga mempunyai model or master plan homeschooling-nya masing-masing.
Kembali pada visi, misi, dan nilai keluarga yang seperti apa yang akan ditanamkan secara konsisten pada anak-anak kita yang nantinya akan tumbuh berkembang dalam dunia nyata.

Setiap anak dilahirkan sukses dengan kecerdasan yang unik dan potensi yang luar biasa.
Setiap perkembangan anak pasti ada masanya. Tergantung dari kematangan psikologisnya.
Termasuk tahap perkembangan akademis, yang saat ini sangat diprioritaskan di Indonesia.
Begitu anak siap dalam tahap tertentu, pasti akan cepat sekali proses penyerapannya.

Filosofi pendidikan, jika mengacu pada definisi kata "educate", artinya adalah "mengeluarkan potensi anak". Inilah yang menjadi tugas kita. Caranya adalah dengan memfasilitasi, mendukung, dan menemani anak berkegiatan baik indoor maupun outdoor.
Sementara filosofi yang dipegang oleh pendidikan formal saat ini adalah memposisikan anak/murid sebagai kertas kosong yang harus diisi berbagai macam subyek oleh orang dewasa/guru.

Dalam proses homeschooling, anak bisa mempelajari sesuatu sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Belajarnya pun bisa apa saja, dimana saja, kapan saja, bersama siapa saja.
Hebatnya, "semuanya bisa dipertanyakan". Jadi yang belajar ya semuanya. Karena anak pasti akan lebih banyak bertanya dari keingintahuannya yang tinggi dibandingkan kita yang mengenyam sistem pendidikan formal selama ini hanya "menerima" pengetahuan tanpa mempertanyakan. Haha..

"Tidak ada standar dalam homeschooling", kata Pak Aar.
Ya benar juga. karena seperti aku tulis di atas, semua kembali kepada keluarga masing-masing.
Dengan tujuan pastinya yang terbaik untuk anak-anak.
Yang jelas memang kita akan lebih komplek dan luas cakupan kegiatannya. Dalam hal ini kita adalah kepala sekolah, bukan guru. Kita yang mendesain model belajar, sistem belajar, kegiatan sehari-hari, juga proses yang ditawarkan untuk disepakati bersama.
Homeschooling itu seperti prasmanan..
Pilih yang suka dan ambil porsi secukupnya perut kita.
Tidak ada pusat yang menaungi homeschooling.
Karena homeschooling adalah keluarga yang independent yang memutuskan mengambil alih seluruh proses pendidikan anak-anaknya yang bisa bergerak bebas kemana saja.
Namun, kegiatan pendidikan alternatif ini diatur oleh Undang-Undang No. 20/2003.
Maka tidak perlu kuatir sebenarnya ya.

Untuk ijazah atau kesetaraan, apabila diperlukan, sebagai homeschooler tetap bisa mencapai itu.
Ada Ujian Kesetaraan Nasional (Paket A, B, C), bisa juga dengan kerjasama dengan Sekolah Payung, dan atau mengikuti Ujian Cambridge.
Ujian Paket diselenggarakan resmi dari Diknas, melalui PKBM dan menurut kabarnya gratis.
Kerjasama dengan Sekolah Payung, maksudnya anak hanya mengikuti Ujian yang diselenggarakan sekolah formal ini, namun sehari-harinya belajar di rumah.
Ujian Cambridge, adalah ujian bertaraf internasional, yang dilaksanakan langsung di tempat. Sementara ini di Jakarta ada di Al-Azhar. Begitu anak siap, bisa langsung ujian, seperti tes toefl. Karena ujiannya per mata pelajaran yang bisa dipilih dengan biaya kira-kira 1.5juta per mapel.
Semua ijazah yang dikeluarkan dari ketiga alternatif di atas adalah resmi dan diakui.

Berhubung Abi masih 4thn 8bln saat ini, maka aku tidak banyak bertanya tentang legalitas ini.
Paling tidak sudah cukup menjawab ketika berdiskusi dengan orang tua.
Pasti besok akan ada perubahan lagi, dan semoga mengarah ke yang lebih baik.

Tidak sedikit yang bertanya, "trus gimana memulainya?"
Dulu, awal aku googling mencari tahu tentang homeschooling ini, kegilaan deh.
Begitu masukkan kata kunci homeschooling saja, banyak sekali hasilnya.
Semua aku download, aku baca. Yang bahasa inggris, yah lewat-lewat dikit lah xixixi..
Yang tersirat dalam setiap blog praktisi homeschooling baik di Indonesia maupun di International, aku melihat petualangan yang asyik, perjuangan luar biasa, namun hasilnya CUKUP dan SESUAI dengan yang menjadi harapan masing-masing anggota keluarga (orang tua dan anak).

Memang pada kenyataanya, adalah Ibu yang akan terlibat lebih banyak dalan setiap kegiatan [Pak Aar pun menyampaikan hal ini].
Karena tidak hanya merencanakan detil agenda anak yang mana harus disiapkan sendiri, namun juga urusan domestik merupakan tugas Ibu.
Yang pasti kekompakan antara ayah dan ibu harus terjaga.
"Satu kata Satu hati", kayak lagunya Dewa ya? Eeh.. gak ya.. [bingung sendiri..]

Ketika kita sepakat bersama..
Menjadi kompak dan harmonis..
Akan membuat hati nyaman..
Menjalankan apapun terasa manis..

Dan PR buat aku dan Aji adalah kesabaran untuk mengamati minat bakat Abi.
Pak Aar menjawab pertanyaanku tentang hal ini, bahwa:
Kunci HS adalah kesabaran.Orde nya bukan harian melainkan tahunan. Kalo masih preschool memang belum dipastikan. Di-Stimulus saja yang banyak. Tugas kita adalah eksplorasi. 
Dikenalkan dengan berbagai macam kecerdasan.

Selama masih dalam proses pencarian ya biarkan.


Kami SETUJU! hehehe...

Pak Aar dan Mba Lala, Terima kasih "seratus milyar" [satuan bilangan kesukaan Abi belakangan ini]
Sungguh bersyukur sekali bisa mengenal Anda berdua, keluarg Anda, dan bisa mengikuti segala kegiatan yang terkait homeschooling, termasuk ketemu langsung dan sharing bersama.

Demikian sekilas info.. [xixi..]
Rangkuman tentang Webinar Hari 1 "Pengantar Homeschooling"
Semoga bermanfaat bagi semuanya saja.

Bagi yang berminat, silakan langsung ke page Rumah Inspirasi di FB.
dan untuk informasi webinarnya bisa lihat di:
http://rumahinspirasi.com/webinar-homeschooling-ii-2013/

-Tuhan Memberkati-

Wednesday, October 2, 2013

Klub OASE: PP-IPTEK TMII

Tanggal 25 September 2013 kemarin, kami mengikuti kegiatan Klub OASE yaitu berkunjung ke PP-IPTEK/Museum IPTEK Taman Mini Indonesia [TMII].

Seru sekali pengalaman ini!
Kami sampai lokasi jam 9.20. Kurang 10 menit dari waktu yang disepakati untuk berkumpul.
Tadinya kuatir bakalan terlambat, karena kondisi traffic yang sangat padat.

Begitu sampai, langsung disambut hangat oleh Mba Lala, kemudian mendaftar untuk mendapatkan Name Tag, mengisi daftar hadir dan bertransaksi.  Anak-anak pun berkumpul untuk saling berkenalan. Mba Lala mengajak anak-anak untuk saling berkenalan lalu menjelaskan secara garis besar apa-apa saja yang ada di dalam Museum IPTEK ini.

Tepat jam 10.00 kami diminta untuk bersama-sama bersiap di depan pintu masuk museum.
Petugas memberikan briefing dan peraturan yang harus diperhatikan ketika berada di dalam museum.

Setelah itu anak-anak diperbolehkan masuk dengan berbaris, diikuti oleh para orang tua.







Agenda pertama, kami mendapatkan kesempatan untuk melihat Peluncuran Roket Air.
Hebat ya!.. aku sendiri terkagum-kagum melihat karya sains ini.

I try to describe what I saw..
Botol plastik bekas minuman bersoda yang disusun dan diberi sayap di bagian kanan - kiri - atas nya, kemudian diisi air sebanyak batas yang ditentukan. Setelah itu dihubungkan kepada pegas yang sudah tersedia. Entah pegas ini bagaimana cara membuatnya. Lalu dipompa sebanyak 20x, kemudian dilepaskan dengan daya pegas menggunakan alat yang diambil dari rem tangan sepeda. Dan meluncurlaaah!!... Cool!!

The children was so so so excited, including Abimanyu-ku.

Agenda kedua, kami diajak untuk melihat berbagai macam percobaan sains yang simple. Namun sama sekali tidak mengira bisa begitu xixixi...


Ada percobaan air + baking soda yang bisa membuat balon menggembung atau terisi udara.

Ada percobaan balon vs lilin dan balon+air vs lilin, mana yang meletus dan mana yang tidak.

Lagi-lagi seru... hehehe...




Agenda ketiga, sangat tidak kalah seru!
Kami diajak untuk masuk ke sebuah ruang yang didesain khusus untuk simulasi gempa.
Abi hebat, masuk bersama teman-teman, tanpa kami berdua. Dan keluar dengan senyum sumingrah.
"Aku gak taku lho Ma.. Cuma goyang-goyang gitu aja", katanya semangat.

Selanjutnya, kami bebas mencoba segala macam alat sains dan simulasi yang tersedia di dalam museum ini.
Ada zona gelombang, listrik, dan magnet.
Ada zona cahaya dan planet.
Ada demonstrasi robot.
Ada zona transportasi, mesin.
Ada taman bermain anak komplit mencakup musik, benda, ruang baca, permainan dokter.
Ada juga ruang anak untuk membaca dan bermain game komputer.

Di depan, setelah pintu masuk, kita bisa melihat Robot T-Rex yang diletakkan di sebuah hutan yang didesain hampir mirip seperti jaman Dinosaurus.
Lalu di sebelahnya ada photo booth 3D. Disitu kita bisa berfoto ria, seolah nyata karena 3D.


Waktu sudah menunjukkan jam 12.30, saatnya makan siang.
Kami berkumpul di pelataran dekat parkiran, di bawah pohon rindang.
Langsung deh, bukan lunch box masing-masing dan saling berbagi.
"Wah kita piknik Ma..", kata Abi.

Setelah makan, ternyata anak-anak masih belum puas.
Merekapun kembali masuk ke museum, ternasuk Abi.. hahaha..
Abi mengajak kami untuk masuk kembali. Ada yang belum dilihat katanya. >_<

Kami mengakhiri kunjungan di museum sekitar jam 15.00.
Kloter terakhir sepertinya, karena sudah hampir sepi.
Tidak masalah, yang penting Abi puas dalam mengeksplorasi keingintahuannya.

Foto-foto lengkap bisa dilihat disini:
https://www.facebook.com/maria.lia.9404/media_set?set=a.10202349821133193.1073741841.1422215122&type=1

Special thanks to Klub OASE dan panitia acara ini.
Ayo jalan-jalan lagiii...

-Tuhan Memberkati-

Tuesday, October 1, 2013

Bday Gift for Mba Ayu

Tanggal 30 September kemarin adalah hari ulang tahun Ayu.
Abi memanggilnya "Mba Ayu".
Mba Ayu ini adalah salah satu teman bermain Abi kalo mamapapa nya harus latihan nyanyi atau bertugas melayani menyanyi di acara-acara pernikahan dsb. [terima kasih Mba Ayu]

Rencana awal, Abi pengen kasih kado cupcake aja.
Tapi ketika berangkat menuju rumah Mba Ayu, mampir ke toko kue, dan toko ini ternyata sudah pindah hahahaha.. Ditambah, saat itu tidak ada waktu lagi untuk mampir ke toko yang lain karena mamapapa ada tugas melayani di Pluit.

So, pindah deh ke rencana cadangan..
Tadi sore kami jalan-jalan di taman untuk memenuhi keinginan Abi cari ranting, daun, dan bunga, aku pun iseng menanyakan hal ini ke Abi..
Mama: "jadinya mau kadoin Mba Ayu apa ya mas?"
Abi: "hmmm .. ini aja pake daun daun bunga bunga"
Aku berpikir keras untuk memahami maksud Abi. Ide pun muncul..
Aku tawarkan ke Abi untuk menghias foto saja dengan daun dan bunga yang dia kumpulkan.
Abi pun setuju ..

Mulailah kami kumpulkan berbagai macam daun, ranting, dan bunga.
Walaupun akhirnya yang dipakai cuma bunga ilalang dan bunga sepatu hahaha...






Taraaaa.... Jadi deh..
Happy Birthday Mba Ayuuu...


Langsung deh.. -- berpelukaaaan --

-Tuhan Memberkati-