Sunday, October 27, 2013

Webinar#4 - Belajar Melalui Keseharian

Webinar keempat ini membahas tema "Belajar Melalui Keseharian", bahwa dalam keseharian tanpa kita sadari banyak hal yang bisa dijadikan sebagai pembelajaran.
Walaupun webinar di Rabu malam sempat tertunda dan reschedule menjadi Sabtu malam, tak jadi soal karena tetap seru bahasannya dan tetap saja mencerahkan.

http://humanscaleschools.tumblr.com/post/24679250161/daydreamingaboutassholes-image-quote-by.
Banyak poin mendasar bagi kita -orangtua- yang bisa diambil dalam webinar kali ini.
Salah satunya adalah seperti quote dari John Holt yang aku dapatkan dari internet di atas, yaitu tentang TRUST. 

Sebagai praktisi pemula HS untuk anak balita (Abimanyu saat ini 4tahun 8bulan), menurutku yang dibangun lebih dulu adalah Trust. Karena berproses dengan anak balita dalam HS (in my mind) adalah membebaskan dia berimajinasi, bereksplorasi, mengenal apapun itu.
Kalo tidak ada Trust dalam diri kita, pasti batasan-batasan yang pernah kita dapatkan ketika masih kecil, akan kembali kita doktrinkan ke anak kita. Padahal mungkin itu tidak perlu atau bahkan justru menghalangi proses anak untuk berkembang.

Beberapa contoh yang sering kita dengar:
- Jangan panjat pohon, nanti kamu jatuh lho! (padahal skill ini penting)
- Udah kamu sini aja diem ah! (memerintah tanpa alasan)
- Eh udah deh, mama aja yang tuang, nanti malah tumpah kemana-mana! (membatasi dg menuduh)
Kalo sudah baca sana sini tentang parenting, pasti mendengar atau membaca kalimat-kalimat di atas ini rasanya risi. Kok anak diperlakukan begitu ya.. Jleb! deh...

Kekuatan HS yang sekaligus membedakannya dari sekolah formal salah satunya adalah belajar melalui keseharian ini. Namun juga terkadang menjadi boomerang. Pola pikir kita pada umumnya akan memandang yang tampak mewah dan harganya mahal, sebagai bentuk produk yang pasti lebih baik. Sedangkan, dalam keseharian, banyak hal gratis yang bisa diambil sebagai proses pembelajaran yang terkadang tak disadari dan terlewat begitu saja. Kami juga perlu mengasah kepekaan sepertinya... Fiuh...
Selain Trust, yang gratis lainnya adalah Attention.
Bagaimana kita hadir dan berkegiatan bersama dengan memberikaan diri sepenuhnya kepada anak.
Berlomba dengan canggihnya teknologi saat ini, banyak informasi dan kesenangan yang didapatkan dari gadget, seperti chat dg teman, update status (juga cek status teman), jualan online, dll. Kadang tanpa sadar kita terlena sehingga mengambil perhatian kita dari anak.

Apabila full attention itu sudah kita berikan, maka apapun bisa dilakukan.
Ikatan batin menjadi lebih kuat dan ngobrol apapun bisa enak pastinya ya..
Dari ngobrol, apapun bisa diproses, bisa tahu minat anak, keinginan anak terhadap kita, bisa tahu apa yang dirasakan anak, bisa sharing apa yang sebenarnya kita ingin tanamkan, dan masih banyak lagi.

So?
"Trust - Full Attention - Communication"
Hmmm... aku dan Aji masih belajar berproses dengan ini juga :D

Seperti quote yang disampaikan dalam webinar:
"Apa yang dibutuhkan anak bukanlah kurikulum yang baru atau kurikulum yang lebih baik, melainkan sebuah dunia nyata dan akses yang luas dimana mereka bisa memaknai fantasi dan khayalan-nya dalam kehidupan mereka" (John Holt)

"Belajar adalah segala proses yang kita lakukan untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik dalam tataran pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan kualitas diri"
"Mainan yang disukai dan yang berharga di mata anak adalah oranguanya sendiri"
Selama ini, dalam memory kita, sangat lekat bahwa Belajar untuk anak itu Duduk Diam Dengarkan dan diukur menggunakan Mata Pelajaran dan Nilai.
Paradigma ini sebaiknya (baca: harus) kita rubah secepat mungkin, mengacu pada quote tentang belajar juga webinar sebelumnya plus banyak artikel edukasi yang bisa kita baca di internet.

Learning Process dibagi menjadi 4 tahap.
Learn to know, Learn to be, Learn to do, dan Learn to live together.
(berdasarkan artikel di UNESCO, sedangkan di Buku Unschooling Rules hanya 3)

Learn to Know: 
transfer ilmu, berbagi wawasan, bertukar pikiran, cari tahu dari media lain
Learn to Be: 
mengenal diri sendiri, mengenal diri anak, apa yang disukai, apa yang tidak disukai, apa hobinya, apa yang bisa dia kontribusikan untuk keluarga, kontribusi untuk lingkungan, dll
Learn to Do:
berkaitan dengan ketrampilan, melakukan kegiatan hobi, melakukan eksperimen untuk menindaklanjuti pengetahuan yang sudah ada, melakukan latihan untuk mencapai level tertentu, mencoba secara langsung ketika ingin tahu sesuatu
Learn to Live Together:
berkaitan dengan interaksi orang lain, berorganisasi/berkegiatan dengan kelompok, melakukan hobi bersama orang lain, berkomunikasi dengan baik kepada orang lain di segala usia, dll


PR kita adalah melibatkan keempat learning process ini dalam keseharian kita.
Dari learning process ini, kita bisa menilai hard skill dan soft skill anak.
Hard Skill misalnya kemampuan atletik, ketrampilan menggunakan komputer, kemampuan menyetir, merapikan rumah, menggunakan pensil warna untuk menggambar atau membuat desain, dll.
Soft Skill misalnya kemampuan dalam mengatur waktu, peka diri, peka situasi, peka sosial, dll.
Dan ditambah dengan terjalinnya hubungan yang baik, kurasa kita bisa sama-sama belajar untuk menanamkan hal-hal baik kepada anak.

Proses pembelajaran adalah apa yang dialami anak, bukan seberapa besar usaha orangtua menyiapkan segala sesuatunya tanpa berdiskusi dengan anak, tanpa tahu apa yang diinginkan anak.
Karena ukuran keberhasilan kita, terutama dalam HS, adalah kesenangan anak dalam belajar.
Indikatornya mudah menurutku. Begitu melihat mata anak berbinar, heboh, dan banyak pertanyaan, artinya dia sangat berminat dengan apa yang ada di depan matanya. Ketika anak bersemangat artinya dia tertantang, maka dia akan melakukan apa saja untuk memuaskan keingintahuannya. Ketika dia berhasil mengetahuinya, atau lebih dari itu, ketika dia berprestasi atas usahanya sendiri maka akan muncul rasa bangga yang luar biasa sebagai energi positif yang bisa ditularkan ke berbagai hal.
Momen ini disebut ruang pembelajaran yang accidental dimana kita harus jeli dan segera hadir didalamnya. Dimana ada proses pembelajaran lain, yaitu by design atau yang direncanakan dan dengan waktu khusus.

Contoh kegiatan sederhana keseharian yang bisa menjadi pembelajaran:
- duduk bersama di pinggir jalan
untuk anak 4-6thn, bisa diajak untuk hitung jumlah mobil, jenis mobil, warna mobil, jumlah orang
untuk anak 7-10thn, bisa diajak untuk jumlah per kelompok, per hari, per warna, dan buat grafik
untuk anak 11-13thn, bisa diajak untuk membuat statistik, membuat hitungan yang lebih kompleks
- memasak bersama di dapur
untuk anak 4-6thn, bisa diajak untuk cuci & potong sayur, aduk telor, memberi garam/tepung, dll
untuk anak 7-10thn, bisa diajak untuk mengiris sayur/bumbu, memasukkan bumbu, dll
untuk anak 11-13thn, bisa diajak untuk menginterpretasikan resep menjadi masakan jadi, dll
- bersih-bersih rumah
untuk anak 4-6thn, bisa diajak untuk mengelompokkan mainan/barang miliknya ke kardus, merapikan kamar, melipat baju, dll
untuk anak 7-10thn, bisa diajak untuk sortir barang yang sudah tak terpakai, merapikan kamar, menyapu ruangan lain selain kamar, mengepel, me-lap barang yang kotor, dll
untuk anak 11-13thn, bisa diajak untuk membantu orangtua untuk merapikan ruangan lain seperti dapur, ruang tengah, gudang, mengepel dan me-lap lemari, dll

Masih banyak proses belajar melalui keseharian.
Ketika di kamar mandi, main air sambil ngobrol tentang proses air atau bentuk air.
Ketika di kamar tidur, membahas buku cerita yang sedang dibacakan.
Ketika sedang menyiram tanaman, bisa cerita tentang struktur pohon, fungsi pohon, proses hidupnya.
Dan lain sebagainya. Dimana saja, Kapan saja, Dengan siapa saja.

Jadi kalo boleh aku simpulkan, poin penting dari semuanya adalah:
  1. Trust, bebaskan anak bereksplorasi dengan kepercayaan dan awasi dari jauh
  2. Full Attention, kehadiran kita sangat penting dan perhatian penuh kepada anak
  3. Communication, bicarakan apa saja dengan anak dan tatap matanya
  4. Lebih peka akan kesempatan ruang pembelajaran yang ada
  5. Sesuaikan dengan mood anak, Fun is the most important
  6. Pancing ketrampilan bercerita apa yang anak alami, kemudian bernarasi dan presentasi
  7. Ajak anak untuk menuliskan kembali apa yang diketahui 
  8. Bijaksana dengan windows of learning, menjawab secukupnya
  9. Ajak anak untuk mengetahui sumber pengetahuan dan ketrampilan
  10. Mengarahkan kepada anak bahwa sesuatu yang baik itu akan menjadi keuntungan bagi dirinya 


Wow!
Mantab ya poin mendasar yang sebaiknya kita tanamkan dalam pola pikir kita.

Tetap semangat tentunya..
Lha tujuannya juga demi kebaikan bersama.. :)


-Tuhan Memberkati-

No comments:

Post a Comment