Sunday, September 28, 2014

Belajar Mengelola Hati

Persis setahun lalu, aku berbagi cerita tentang Self Control disini:
https://www.facebook.com/notes/maria-lia/self-control/10151936808728846

Semacam cerita bersambung jadinya. Yah mungkin memang sepatutnya seperti ini apabila terkait dengan sebuah proses. Aku bersyukur bisa mengalaminya bersama keluarga kecil ini melalui interaksi setiap anggota keluarga, baik dari Papa Abi maupun Abi sendiri.

Dan kami sangat bersyukur atas kehebatan Abimanyu yang meniti proses pengenalan dirinya secara alami, perlahan namun pasti.

Terjadi di hari Sabtu kemarin.
Jam 9 pagi kami sudah ada agenda untuk membantu melayani koor misa Pemberkatan Rumah tetangga wilayah. Aku memimpin koor dan Papa Abi mengiringi koor dengan keyboard. Tugas berjalan dengan lancar, selesai jam 11 dan kami mendapatkan berkat berlimpah. Bahagia ketika melihat sang empunya rumah tersenyum bahagia dan ibu-ibu koor juga senang karena bisa bernyanyi dengan baik. Itulah berkat yang luar biasa.

Setelah selesai, kami bagi tugas.
Aku bergegas mengantar Abi ke Gading Serpong untuk les musik jam 12 naik mobil sementara Papa Abi harus segera ke Kalibata urusan pekerjaan di jam yang sama naik motor. Melewati jalan macet pastinya, karena saat itu adalah hari Sabtu menjelang siang dan kebanyakan karyawan perkantoran sudah menerima gaji. Time for shopping ya.. hehehe..

Bersyukur adek selalu kuat menemani setiap kegiatan Mama dan Mas Abimanyu-nya.
Sambil menikmati panas dan macet, aku dan Abi mengisi tenaga fisik di mobil dan ngobrol-ngobrol tentang berbagai hal.
Tenang sampai tempat les, karena kami tiba sebelum jam 12 (ngebut dot com) sehingga masih ada waktu untuk melanjutkan isi tenaga dan istirahat sebentar. Les berjalan dengan lancar. Abi menunjukkan perkembangan istimewa hari itu dengan perform sebuah lagu menggunakan variasi tangan kiri (chord) ciptaan Abi sendiri. Welldone my boy!

Walaupun ada lagu lain yang Abi belum lancar. Abi menyadari itu. Tampak dari wajahnya yang kurang puas.
Aku: "kenapa mas, wajahnya begitu?"
Abi: "aku belum bisa ya lagu ini.. :("
Aku: "ya gakpapa.. kenapa kira2 kok abi belum bisa?"
Abi: "ya karena kemarin2 aku gak latian.."
Aku: "jadi abi sudah tau sendiri penyebabnya? trus gimana?"
Abi: "aku mau bisa.. jadi aku harus latian.."
Aku: "baiklaaah kalo begituu... "

Jam 13.15, saatnya pulang dan perlu mampir untuk belanja di supermarket besar.
Menjadi kebiasaan bagi Abi untuk membawa keranjang, sehingga semakin lama seolah menjadi tugas rutin Abi ketika pergi ke supermarket.
Selesai berbelanja, lalu bayar di kasir. Aku masukkan kantong 1 di keranjang, sementara masih ada 2 kantong lagi.
Aku mengambil dompet untuk membayar dan tersentak ketika kemudian aku tersadar Abi sudah tidak ada di sampingku.
Mulai panik! ... Edaran pandanganku ke seluruh sudut di lantai itu tidak membuahkan hasil akan wujud Abimanyu-ku ini.
"Wah, jangan2 langsung ke bawah..", pikirku.
Aku bayar sekaligus ijin untuk menitipkan belanjaanku sebentar di kasir tersebut karena harus mencari Abi. Dan benar, Abi tampak di tengah orang-orang di travelator menuju ke bawah. Aku panggil 1x, "Abi !.." ... Abi menoleh dan melihat wajahku yang tidak seperti biasanya hahaa.. pastinya muka jelek ya.. Begitu sampai di lantai bawah, Abi langsung minggir sendiri dan menungguku di pinggiran travelator itu.

Rasa panik, jengkel, kuatir, marah mulai muncul dan rasanya meletup-letup menyesakkan dada. Aku pandangi Abi tanpa kata. Aku sadar bahwa Abi sadar.
Aku ajak Abi lagi ke atas untuk mengambil belanjaan tadi menggunakan keranjang karena agak berat.
Aku terdiam selama perjalanan pulang. Membiarkan Abi yang juga terdiam. Mulai muncul lagi debat di dalam hatiku.
- "kenapa sih Abi kayak gini?"
- "tapi mungkin Abi berniat membantu dan menunjukkan bahwa dia sanggup"
- "atau dia ingin menunjukkan bahwa dia berani turun sendiri"
- "tapi dia gak ijin gitu.. kan gak bener dong.."
- "di tempat umum dan rame kan gak tau gimana nantinya.."
- "aah abi kan sebenarnya uda mudeng, dia pasti tau akan nunggu dimana"

Begitu banyak komentar yang muncul di pikiranku .. saling menimpali ..
Sampai akhirnya mulai berkurang dan sepi ..
Ini yang dinamakan "Self Talk" sepertinya. Seolah aku melihat diriku sendiri sedang berdebat..
Sementara mulutku masih terkunci rapat. Aku belajar untuk mengamati kemudian menentukan sikap yang akan kuambil.

Sampai rumah, setelah selesai rapikan barang-barang dari mobil, kami duduk bersama.
Abi: "Mama, sudah selesai kelola hati?"
Aku: "Iya sudah.. sini mas.. deket mama.."
Abi: "ya ma.."
Aku: "Menurut Abi apa yang terjadi baru saja?"
Abi: "Aku meninggalkan Mama, Aku gak ijin, Aku langsung turun sendiri.."
Aku: "lalu..."
Abi: "Itu kurang baik.."
Aku: "kenapa?.."
Abi: "Karena harusnya aku ijin dulu sama mama, itu tempat umum juga, trus nanti kalo gak ketemu .. aku gak tau mama dimana dan mama gak tau aku dimana nanti aku sedih dan mama juga sedih.. "
Aku: "lalu.."
Abi: "mmm .. ya itu.. aku tau.. aku tidak mengulanginya lagi.. aku pikir tadi 1 kantong uda selesai.. "
Aku: "ya oke.. lain waktu lebih diingat lagi ya mas.. "
Abi: "iya ma.. (muka mewek) ... (lalu abi menarikku untuk dipeluk) maaf ya ma.."
Aku: "iya mama maafkan.. sama-sama ya.." (rasanya maknyess)


Setelah itu aku dan Abi melanjutkan kegiatan kembali bersama dengan rasa yang lebih plong dan penuh tawa canda. Siram-siram, ngepel, cuci mobil, makan malam, membacakan cerita, ngobrol tentang mobil dan buddha. Menemaniku melipat baju-baju kami sambil menunggu Papa Abi pulang.

Semakin membuat hari ini penuh makna di antara hari-hari indah lainnya adalah..
Abi membuatkan gambar untuk kami.. "ini buat papa mama.."
Walaupun sudah "mengintip" dan curi jepret ketika Abi asyik menggambar, tetap saja ada rasa haru saat Abi memberikannya pada kami.

Diam-diam aku jepret..Lalu pura-pura gak tau kalo Abi gambar ;)



Inilah hasilnya..kecuali tulisan VALENCIA :p 
Rupanya Abi sangat bangga dengan gambarnya sampai ijin
untuk ditempelkan di tembok kamar kami..


Terima kasih ya mas..
Abi memberikan kesempatan Mama untuk belajar mengelola hati dan pikiran dan untuk semakin berkembang baik.
Mama yakin Abi juga mengalami 'self talk' sepanjang perjalanan 'diam' saat itu.
Dan Mama Papa sangat bersyukur proses mengelola hati ini bisa berjalan secara alami melalui kejadian keseharian kita.
Maturnuwun Gusti.



-Tuhan Memberkati-

No comments:

Post a Comment