Wednesday, January 6, 2016

Life Skill & Learning Model from 4-H.org

Mendadak ingin mencari tahu lebih dalam tentang Targeting Life Skills Model setelah mendapatkan informasi dari Irma. Ternyata berbagai sumber informasi muncul saat menuliskan kata kunci targeting life skills model ini. 

Model yang dimaksudkan tersebut di atas merupakan salah satu model sistem pembelajaran dan pengembangan diri di dalam sebuah organisasi yang disebut 4-H.
Wikipedia menyebutkan bahwa 4-H adalah sebuah non-profit organisasi global yang merangkul generasi muda (kisaran usia adalah 5 - 21 tahun) dan mengembangkan potensi yang mereka punya. 4-H tersebar di lebih dari 50 negara di seluruh dunia yang berpusat di Washington, D.C. 

Yang bisa diadaptasi dari organisasi ini adalah semangat para relawan dalam mencapai slogan dan motto mereka. Rasanya seperti menemukan "udara segar" lain lagi diantara penyegar lainnya dalam hal mendidik anak-anak terutama bagi kami keluarga homeschooler. Website 4H menggambarkan banyak informasi yang bisa dipelajari. Dan 4-H ada juga di Indonesia ternyata, kita bisa mencari tahu di www.4-h.or.id, sayangnya informasi di dalam web ini masih sangat minimalis.

Slogan 4H: "Learn by Doing"  
Motto 4H: "To Make the Best Better".


Targeting Life Skills Model (TLSM) dan Experiential Learning Model (ELM) merupakan 2 hal yang menarik untuk digali lebih mendalam. Menurutku TLSM dan ELM ini dapat dijadikan acuan bagi kita untuk mendampingi anak-anak dalam mempersiapkan jiwa raga mereka mencapai kemandirian dan kesuksesan nanti. 


TARGETING LIFE SKILLS MODEL (TLSM)
http://ext100.wsu.edu/jefferson/wp-content/uploads/sites/48/2013/02/targeting-life-skills1.jpg


Life Skills secara singkat diartikan sebagai ketrampilan hidup. Skills sendiri dapat dijabarkan sebagai suatu kemampuan belajar untuk melakukan sesuatu dengan baik.  Dijelaskan di Iowa State University mengenai TLSM, Life Skills merupakan kemampuan belajar seseorang dalam melakukan sesuatu yang akan membantu kesuksesan mereka mencapai kepuasan hidup dan hidup yang produktif.
Istilah "4-H Youth Development" digunakan ketika mendiskusikan gambar tersebut di atas.
4-H yang dimaksud adalah Health, Hands, Heart, Head.

Dibaca berlawanan arah dengan arah jarum jam dari Health.
HEALTH (KESEHATAN), dibagi menjadi 2 kelompok kemampuan yaitu:
Living = kemampuan bagaimana menjalani dan memelihara hidupnya (jiwa dan raga)
Being = kemampuan untuk memilih akan seperti apa sikap dirinya (jiwa)

Living meliputi:
1. Healthy Lifestyle Choices, yaitu kemampuan untuk memilih gaya hidup sehat
2. Stress Management,yaitu kemampuan untuk mengendalikan dan mengelola tekanan
3. Disease Prevention, yaitu kemampuan memilih kebiasaan hidup sehat dan mencegah penyakit
4. Personal Safety, yaitu kemampuan untuk menjaga diri untuk tetap aman dan nyaman

Being meliputi:
1. Self Esteem, yaitu kemampuan untuk mempercayai, menerima, dan menghargai diri sendiri
2. Self Responsibility, yaitu kemampuan untuk bertanggungjawab atas diri sendiri dan dapat mengambil keputusan mana yang terbaik yang perlu diambil
3. Character, yaitu kemampuan terus meningkatkan karakter baik termasuk prinsip dan nilai diri
4. Managing Feelings, yaitu kemampuan untuk mengelola emosi diri dan beradaptasi
5. Self Discipline, yaitu kemampuan untuk kontrol diri, mengatur diri, dan disiplin

HANDS (KETANGKASAN), dibagi menjadi 2 kelompok kemampuan yaitu:
Working = kemampuan untuk mau melakukan sesuatu secara tindakan nyata/fisik (bekerja)
Giving = kemampuan untuk mau terlibat dan memberikan kontribusi dalam suatu kegiatan
Dalam hal ini, cenderung dipandang dari sudut pandang partisipasi atau kontribusi seseorang dalam melakukan sesuatu ketika berada di dalam sebuah kelompok/komunitas.

Working meliputi:
1. Self Motivation,yaitu kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, menginspirasi dan memberikan stimulus yang tepat bagi diri sendiri untuk menuntaskan sebuah pekerjaan
2. Teamwork, yaitu kemampuan untuk berkolaborasi dengan orang lain, berkomunikasi baik, membagi tugas dan menerima tanggung jawab atas porsinya atas pekerjaan dalam kelompok
3. Useful/Marketable Skills, yaitu kemampuan multi talenta dan mampu menggunakannya secara efektif demi tercapainya tujuan sebuah pekerjaan/kegiatan dalam kelompok seperti komunikasi, bekerja dengan berbagai macam latar belakang orang, dapat membaca situasi dan mengambil keputusan yang tepat

Giving meliputi:
1. Contributions to Group Effort, yaitu kemampuan untuk teamwork (Poin Working No. 2 di atas) dan bersedia memberikan dukungan tenaga, waktu, dan materi demi tercapainya tujuan bersama
2. Responsible Citizenship, yaitu kemampuan untuk mau mengabdikan diri sebagai anggota komunitas dan warga negara yang baik
3. Leadership, yaitu kemampuan untuk memimpin dan mendampingi sebuah kelompok dalam mencapai tujuan kegiatan kelompok tersebut
4. Community service/volunteering, yaitu kemampuan untuk mau memberikan waktu dan tenaga secara sukarela dalam melakukan kegiatan bersama dalam suatu komunitas

HEART (PERASAAN/HATI), dibagi menjadi 2 kelompok kemampuan yaitu,
Caring = kemampuan untuk peduli terhadap orang lain, memperhatikan dan memberikan empati
Relating = kemampuan untuk berhubungan baik dengan orang lain dan saling memberikan makna

Caring meliputi:
1. Nurturing Relationship, yaitu kemampuan untuk membina hubungan baik dengan orang lain dan mampu memunculkan kondisi saling peduli, saling berbagi, dan saling membantu
2. Sharing, yaitu kemampuan untuk berbagi dan menggunakan sesuatu bersama dengan orang lain, termasuk juga mampu menyelesaikan tanggung jawab bersama
3. Empathy, yaitu kemampuan untuk ikut merasakan apa yang sedang dialami orang lain (perasaan, situasi, kondisi, pilihan dan kecenderungan)
4. Concern for Others, yaitu kemampuan untuk memperhatikan orang lain dan melibatkan diri untuk membantu secara langsung

Relating meliputi:
1. Accepting Differences, yaitu kemampuan untuk mengenali dan menerima keunikan/perbedaan yang muncul dalam sebuah kelompok
2. Conflict Resolution, yaitu kemampuan untuk mencari celah atau jalan keluar yang tepat, kreatif, dan dengan cara yang baik/tidak merusak
3. Social Skills, yaitu kemampuan untuk menjaga diri dalam hal sopan santun dalam berinteraksi dengan orang lain, termasuk mampu untuk beradaptasi 
4. Cooperation, yaitu kemampuan untuk bekerja bersama dengan orang lain termasuk mampu menangani konflik yang muncul
5. Communication, yaitu kemampuan untuk berbagi informasi juga menerima dengan baik melalui panca indera seperti mendengar, bicara/bahasa verbal, menulis, gaya/bahasa tubuh, dan ekspresi

HEAD (BERPIKIR), dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:
Managing = kemampuan untuk mengelola sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan kegiatan
Thinking = kemampuan untuk berpikir, mengeluarkan idea, mempertinbangkan berbagai langkah dan mengambil sebuah keputusan

Managing meliputi,
1. Resiliency, yaitu kemampuan untuk bangkit kembali, beradaptasi dengan perubahan, dan menghadapi tantangan yang muncul
2. Keeping Records, yaitu kemampuan untuk melakukan dokumentasi, menyimpan segala hal yang perlu sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
3. Wise Use of Resources, yaitu kemampuan untuk berpikir bijaksana dalam menggunakan sumber daya yang ada dan membuat prioritas
4. Planning/Organizing, yaitu kemampuan untuk merencanakan langkah yang perlu dilakukan kemudian mengorganisasi langkah tersebut dalam skala waktu pencapaian tujuan
5. Goal Setting, yaitu kemampuan untuk mengambil dan membuat sebuah titik tujuan sebuah kegiatan dan mampu menganalisa beberapa langkah yang diperlukan untuk mencapai itu

Thingking meliputi:
1. Service Learning, yaitu kemampuan untuk belajar dari sebuah pelayanan (yang termasuk dalam kemampuan HEART) terhadap orang lain dalam sebuah kelompok
2. Critical Thinking, yaitu kemampuan untuk berpikir secara kritis dan strategis dalam menganalisa, membandingkan, membuat hubungan dengan kegiatan/pengalaman yang terjadi sebelumnya, dan membuat refleksi untuk kemudian dapat meningkatkan sebuah pengambilan keputusan
3. Problem Solving, yaitu kemampuan untuk menyelesaikan sebuah konflik yang terjadi
4. Decision Making, yaitu kemampuan untuk mengambil kesimpulan atau keputusan tepat di antara berbagai macam pilihan langkah dan pertimbangan
5. Learning to Learn, yaitu kemampuan untuk mengevaluasi dan memahami berbagai macam sistem dan langkah kegiatan kemudian mempelajarinya untuk membuat sebuah cara baru yang lebih baik

Pembahasan lebih lengkap dalam Bahasa Inggris dapat dilihat di sini:
http://www.uwex.edu/ces/4h/educators/documents/ListofLifeSkillsandComponents.pdf


Selain TLSM di atas, aku juga sangat tertarik dengan Experiential Learning Model.
Menurutku proses belajar seperti ini sangat baik untuk diaplikasikan.

EXPERIENTIAL LEARNING MODEL (ELM)
http://www.ohio4h.org/sites/ohio4h/files/imce/images/ELM_Full.jpg

Siklus ELM yang tergambar di atas adalah sangat jelas menggambarkan bagaimana sebuah proses pembelajaran itu sebaiknya terjadi. Anak-anak diajak untuk mengalami, memahami, dan berbagi.
Penjelasan awal tentang ELM ini ada di sini.

1. EXPERIENCE
Anak-anak diajak untuk merasakan sebuah pengalaman dari bidang/kegiatan yang mereka pilih/suka. Pengalaman di sini pasti sangat luas, tergantung dari bidang/kegiatannya. Sebagai contoh proses belajar mengenal mobil, karena Abimanyu sangat suka dengan mobil. Maka pengalaman pertama yang dipaparkan misalnya mengajak ke pameran mobil, melihat video pembuatan mobil, mengajak ke bengkel mobil, membaca buku tentang mobil, dll.

2. SHARE
Anak-anak diajak untuk membagikan apa yang sudah mereka lakukan di Poin EXPERIENCE tadi. Membagikan cerita bisa dengan presentasi atau membuat Lapbook atau bisa juga membuat video, dll. Sebagai contoh dari mobil tadi, Abi memilih untuk mempresentasikan tentang mobil Lamborghini melalui media Lapbook. Abi mengumpulkan data dan gambar kemudian ditempelkan di map kertas.

3. PROCESS
Setelah membagikan cerita, anak-anak bisa belajar diskusi tentang bidang/kegiatan tersebut. Dalam diskusi tersebut dapat diarahkan untuk belajar mengambil keputusan apa-apa saja yang penting dalam kegiatan tersebut, atau apa yang lebih diminati anak, atau apa yang ingin digali lebih dalam. Hasil dari disksui ini akan mengerucutkan kepada hal yang spesifik terkait dengan kecintaan anak.
Sebagai contoh, setelah lapbook Lamborghini selesai, aku dan Abi berdiskusi mengapa mobil itu yang dipilih, alasannya apa, tujuannya apa, bagian mana yang disuka, rencana Abi dengan mobil ini bagaimana, mimpi Abi apa, dsb.

4. GENERALIZE
Tahap ini mengajak anak untuk mengkombinasikan proses diatas terhadap bidang/kegiatan yang dipilih tadi dengan Life Skill yang mereka miliki untuk menciptakan sesuatu atau membuat hal yang sama dalam keseharian mereka. Sebagai contoh, dari PROCESS di atas Abi kemudian belajar membuat gambar mobil Lamborghini baik dengan alat tulis maupun dengan software/program komputer atau membuat kreasi dari kardus bekas/botol bekas hingga akhirnya kemungkinan besar Abi mampu menciptakan mobil yang sebenarnya (amin).

5. APPLY
Sebagai akhir dari siklus ELM ini adalah proses aplikasi yang analog. Anak-anak diajak untuk melakukan proses yang sama terhadap bidang lain yang diminatinya atau terhadap bidang yang sama namun yang lebih spesifik lagi yang akan digali lebih dalam sehingga mencapai tujuan dan mimpi tertinggi mereka.


Tidak ada salahnya untuk mencoba TLSM & ELM dalam keseharian menciptakan ruang bagi anak-anak untuk mencapai mimpi mereka. 
Semoga terjembahan dan pemahamanku terhadap model tersebut di atas tersampaikan dengan benar, terutama bagi yang membutuhkan.


-Tuhan Memberkati-

No comments:

Post a Comment