Monday, May 29, 2017

DK: Boys Sale Charity Project (BSCP) 2

Boys Sale Charity Project (BSCP) 2 merupakan aksi lanjut dari BSCP 1 yang diceritakan di sini.

Turut senang ketika anak-anak sangat menikmati proses belajar ini.
Walaupun lelah karena mengukur sebuah pakaian membutuhkan mata teliti dan jeli saat menggunakan metelin.
Ketika menuliskan ukuran-ukuran tersebut di setiap pakaian juga memerlukan ketekunan yang tidak sebentar.
Dan tak jarang the boys ini saling berdebat antara ukuran yang benar, atau cara melipat yang benar, atau juga siapa yang sudah melipat siapa yang sudah mengukur. Begitulah..

Para pemesan sangat berminat dengan proyek ini dan menyampaikan untuk diadakan lagi.
Di saat yang bersamaan, ada cerita dari Ibu Ines Setiawan yang beberapa waktu sebelumnya berkunjung ke Kepulaian Mentawai bersama timnya.

Mendengarkan cerita Ibu Ines, tak hanya the boys, namun para emak pun tersentuh.
Dengan harapan dapat membantu teman-teman di Mentawai melalui BSCP, maka the boys pun mengadakan BSCP2.

Pakaian layak pakai dari beberapa teman pun dikumpulkan.
Prosedur BSCP pun dilakukan the boys seperti proyek yang sebelumnya.

Pakaian dan sepatu layak pakai sebagian dimasukkan dalam proyek BSCP2 dan sebagian lagi akan langsung dikirimkan untuk teman-teman di Mentawai.
Juga buku-buku pelajaran dan pengetahuan dikumpulkan dari beberapa relasi untuk belajar teman-teman di Mentawai.

Pengiriman paket ke Mentawai mencapai 5 kardus sedang, akan dijalankan di awal Juni 2017.
Semoga menjadi berkat bagi teman-teman di sana.


Mari terus berbagi...


-Tuhan Memberkati-


Sunday, May 28, 2017

Ketika Tantrum Anin Datang

Usia 2-3tahun adalah masa dimana sang anak mulai mengenal berbagai macam emosi yang bergejolak terasa di dalam tubuhnya, termasuk emosi kekecewaan.
Terkadang kita sebagai orangtua lebih banyak memandangnya dan memberinya label bandel, nakal, ribet, dan berakhir dengan merepotkan dan melelahkan.
Sementara, sang anak sedang berusaha keras dalam proses belajarnya.

Dikutip dari Colorado State University Extension, R.J. Fetsch and B. Jacobson mengatakan bahwa tantrum biasanya terjadi pada usia 2 sampai 3 tahun ketika anak-anak membentuk kesadaran diri. Balita belum cukup memahami kata "aku" dan "keinginan dirinya" tetapi sangat mudah untuk tahu bagaimana memuaskan apa yang diinginkan. Tantrum adalah hasil dari energi tinggi dan kemampuan yang tidak mencukupi dalam mengungkapkan keinginan atau kebutuhan "dalam bentuk kata-kata"




Tahun ini Anin menginjak usia 2 tahun.
Dengan sifat Anin yang gigih dan teguh, tantrumnya lebih sering muncul dibandingkan dengan kakaknya di usia yang sama. Ketika keinginannya belum dapat terpenuhi maka Anin akan berusaha dengan segala upaya untuk terpenuhi, apalagi jika kondisi tubuh dan mood sedang kurang nyaman.
Tantrum Anin terbilang tidak terlalu parah. Biasanya sikap tantrum Anin adalah berteriak, menangis, dan terakhir kadang-kadang menarik bajuku.





Aku membiasakan untuk selalu menomorsatukan memeluk, diskusi, dan tatap mata.
Terutama saat menghadapi situasi tantrum ini.


Diskusi dalam hal ini adalah mengajaknya bicara dengan kata-kata singkat, to the point, pertanyaan pilihan, dan berakhir dengan kesepakatan sesuatu hal.
Ketika melanggar kesepakatan biasanya aku akan mengajak Anin menenangkan diri terlebih dahulu beberapa saat dan aku menemaninya.
Sesaat kemudian, biasanya Anin akan tenang dan mengajakku berbicara.
Diskusi dan tatap mata kembali dilakukan dan diakhiri dengan pelukan.

Jika level tantrum lebih tinggi, biasanya aku tunggu hingga Anin tenang.
Memeluk atau hanya memandangnya, tergantung sikap tubuh Anin akan mengiyakan atau tidak.  Yang penting hanyalah menemani ketika Anin sedang menangis sejadinya.

Kesabaran dan kekuatan hati memang menjadi bekal kuat di saat-saat ini.
Justru tugas kita adalah membantu anak-anak untuk menghadapi sesuatu yang baru yang terjadi dalam jiwa, pikiran, dan tubuh mereka.



-Tuhan Memberkati-


Friday, May 12, 2017

Compassionate Parenting with Gobind Vashdev

Setelah sekian lama, akhirnya kami dipertemukan dengan Pak Gobind Vashdev beserta keluarganya, Mba Tika dan Rigpa. Dan seperti rumor yang terdengar bahwa beliau tidak mengenakan alas kaki, itu sangat benar. 5tahun sudah beliau menjalaninya. Juga termasuk tidak lagi menggunakan bahan kimia sabun dan shampo untuk membersihkan diri.

Aku diberi kesempatan oleh alam semesta untuk menyegarkan kembali dan menimba ilmu pengetahuan baru \tentang pola asuh anak atau parenting. Materi yang dibawakan Pak Gobind adalah Compassionate Parenting, atau jika dibahasa-Indonesiakan kurang lebihnya adalah "Pola Asuh Anak yang Welas Asih".

Welas Asih, jika diartikan word by word adalah penuh kasih sayang.
Namun justru dibalik dua kata itu mengandung pengertian bahwa welas asih tidak berarti kasih sayang yang lemah lembut melainkan bisa cinta yang tegas dan kuat.


"FOCUS ON YOURSELF"
Dalam seminar ini bukan lalu ujug-ujug membahas tips dan trik menghadapi anak kita dalam keseharian. Namun yang lebih digarisbawahi adalah penguasaan diri kita sebagai orang tua (ayah dan ibu) dan faktor apa yang mempengaruhi.

Sebenarnya, yang menjadi hambatan besar atau munculnya sebuah kejadian tidak nyaman antara kita dan anak-anak adalah diri kita sendiri.


Diri kita dengan berbagai ekspektasi, adanya doktrin/program yang kita percayai sejak kita masih kecil, yang kemudian dibungkus dengan berbagai emosi.

Sehingga, semakin kita fokus pada diri kita sendiri, kita semakin memahami kontrol diri, maka semakin kita dapat memperbaiki diri dalam menemani anak kita menjalankan fitrahnya.

Inti dari sharing Pak Gobind adalah :

"WHAT WE ARE ... WHAT WE EAT"
Dalam hal ini bukan "eat" yang dalam arti harafiah berarti "makan", melainkan lebih pada arti "konsumsi". Bukan juga hanya melulu melalui mulut, namun juga melalui mata, telinga, dan hidung.

Ketika kita mengkonsumsi tontonan yang kurang memberdayakan, sebagai contoh sinetron yang bercerita tentang kedengkian, maka secara tak sadar kejadian-kejadian yang terkait dengan kedengkian pun akan hadir menemani kita secara nyata dalam keseharian. Termasuk mempengaruhi sikap kita dan bagaimana kita dalam mendidik anak setiap harinya.

Satu lagi yang sangat benar adalah : PERILAKU ITU MENULAR

Aku lebih memahaminya sebagai intensi yang tak sadar. Sebagai contoh, melanjutkan contoh di atas, ketika sering menonton sinetron bertemakan kedengkian, maka intensi kita tanpa sadar akan berulang tentang hal yang sama. Jadilah perilaku orang di sekitar kita bahkan sangat mungkin tanpa sadar kita pun akan terbawa oleh apa yang kita intensikan tersebut.


"GROUNDING IS NEEDED INDEED"
GROUNDING adalah salah satu action yang bisa membantu kita untuk lebih fokus terhadap perkembangan diri kita sebagai orang tua dan akan lebih seru juga ketika bersama anak-anak.

Belakangan ini kita lebih banyak menerima ion positif dari sang matahari sementara dari bumi sudah sangat berkurang.

Menurut penelitian yang disampaikan Pak Gobind :




Penting untuk lebih sering Grounding/Earthing nih....


"KNOWING YOUR LEARNING STYLE"
Mengenal LEARNING STYLE ANALYSIS (LSA) juga menjadi bekal yang tak kalah penting untuk amunisi kita berinteraksi dengan mereka. Perkembangan penelitian tentang gaya belajar ini sangat pesat. LSA tidak hanya terpaku pada otak kiri dan otak kanan, namun juga teranalisis dalam berbagai sudut pandang.





Dengan memahami LSA, kita bisa lebih mudah mengajak anak untuk berkomunikasi yang tepat sasaran. Sebagai contoh, anak yang kinestetik akan lebih mudah diberi pengertian dengan kondisi sambil bergerak. Atau juga anak bertipe visual dan alone, akan lebih mudah dan cepat menerima pengetahuan baru dengan menggambarkannya di saat nyaman sendirian.


"CRITICAL THINKERS CHILDREN"
Kemudian, apa yang membuat hubungan kita dengan anak-anak itu adem ayem?

Tidak lain tidak bukan adalah ketika ada PENGERTIAN/UNDERSTANDING.

Maka ketika menghadapi suatu kejadian dengan anak, bukan solusi yang dicari melainkan pengertian di balik kejadian tersebut. Dengan begitu solusi akan datang dengan sendirinya.

Walaupun memerlukan waktu lebih, mencari tahu bersama sebuah pengertian dari suatu kejadian dapat menjadi sarana untuk mengajak anak sebagai "Critical Thinkers".




"REMOVE PROGRAM AND JUDGEMENT"
Pengertian yang dimaksud di atas adalah murni obyektif dan logis tanpa ada asumsi dan persepi yang memihak sebuah program/doktrin tertentu.

Kita perlu cek kembali hidup kita sendiri terkait dengan program/doktrin yang kita terima sejak kita masih kecil.

Apakah masih valid untuk diajarkan bahkan dilakukan oleh anak-anak kita di masa perkembangan mereka? Apakah membawa hal positif bagi hidup mereka?

Selama ini mungkin kita sering masuk pada lingkaran pemikiran yang tidak diperlukan.

Diawali dengan asumsi yang kemudian persepsi dan menghasilkan ekspektasi lalu berakhir dengan sebuah tindakan. Sementara, asumsi adalah suatu pemikiran yang tidak didukung dengan data yang valid.

So, examine our life anytime. Bagaimana caranya?

Long Life Learning itu terbagi dua, yaitu Dari Luar - mendapatkan pengetahuan dan Dari Dalam - mendapatkan pencerahan.

Pembelajaran dari luar, sangat banyak sumbernya, bisa dari internet, CD, buku, diskusi, pengalaman orang, seminar dan alam semesta.

Pembelajaran dari dalam, bisa dilakukan dengan hening, merenung, meditasi, taffakur, dan atau saat teduh.


"INVOLVE MORE AT THE MOMENT"


Terlibat langsung secara sadar dan nyata di saat anak membutuhkan akan membuat anak semakin nyaman bercerita apapun kepada kita. Bahkan ketika mereka mengahadapi sebuah pengalaman baru entah itu menyenangkan atau tidak.

Komunikasi yang baik antara kita dan anak sangat perlu dijaga. Menatap mata dan menyentuh sambil mendengarkan cerita, membuat mereka merasa dihargai dan didengarkan.

Kita juga bisa lebih fokus untuk meniti setiap kata mereka untuk kemudian sampai tahapan diskusi terkait pengalaman yang dialaminya.

Selain itu, selalu gunakan kata positif dan spesifik.


Bekal terakhir adalah mengajak anak untuk menerima diri sendiri apa adanya. Kita perlu memberikan contoh dalam hal ini, yaitu contoh diri kita sendiri.





Bahwa setiap manusia berbeda dan memiliki kekuatan masing-masing, tidak perlu dibandingkan.

Bahwa setiap manusia memiliki pilihan hidup masing-masing dan berhak memberi perubahan yang baik dalam hidupnya.


"The purpose of our life is for being AWARE"
Dalam bahasa Jawa biasanya disebut ELING LAN WASPADA.

Fiuh.. PRnya banyak ya. :)

So, poin penting dengan porsi besar yang perlu kita dengungkan senantiasa adalah:

1. What we are - What we eat

2. Focus on yourself

2. Pengertian lebih utama ketimbang solusi

3. Rombak program jaman dulu

4. Hilangkan judgement (asumsi dan persepsi)

5. Terlibat & Be here at the moment

6. Examine your life

7. Jadilah Fasilitator Pembelajar bukan Pelindung


Mari terus belajar...
Tidak ada kata terlambat untuk berubah...



-Tuhan Memberkati-