Saturday, September 30, 2017

DK: Emak Belajar Konsep Matematika

Selama 1 bulan di Bulan September ini, para emak DK diberi kesempatan untuk belajar tentang konsep matematika. Konsep matematika itu sangat berbeda dari yang kita tahu selama ini ternyata. Paling tidak bagi kami angkatan tahun 90-an hehe...
Belajar membongkar mindset yang selama ini melabeli "matematika" itu dengan semata-mata "hitungan" saja ternyata sangat membutuhkan waktu yang lumayan. Untung saja, BuCik Siti Andriani sangat sabar dan telaten berbagi ilmu luar biasanya kepada kami. Terimakasih ya Mba!

Sebenarnya kata matematika itu sendiri mengandung makna yang sangat dalam.
Apa yang kita dapatkan dari belajar matematika?
1. kalkulasi
2. aplikasi
3. inspirasi
4. spiritual

Yang selama ini kita tahu matematika adalah hitung-menghitung semata, itu permulaan saja. Karena dari kalkukasi akan  memunculkan sebuah aplikasi. Sebagai contoh bahwa bilangan pangkat berasal dari proses pembelahan sel amoeba, dari 2 membelah 4 dst.
Kalau diceritakan secara gamblang kepada anak-anak, tampaknya akan lebih mudah melekat karena berawal dari sebuah pemahaman konsep ya.

Contoh lain juga adalah bentuk geometri. Bentuk geometri yang ada di bangunan-bangunan bersejarah jika diteliti akan memunculkan sebuah makna yang bisa disambungkan juga pada akhirnya kepada inspirasi dan spiritual yang berpengaruh kepada jiwa seorang manusia.

Belajar melihat sebuah pola merupakan hal mendasar yang sangat penting, terutama untuk anak-anak. Sebagai contoh adalah Deret Fibbonaci: 1, 1, 2, 3, 5, 8, ..... selisih angka-angka tersebut adalah 1,168 yang dikenal dengan sebutan Golden Ratio. Bilangan ini diaplikasikan di kerang, tulang, buah pinus, petal bunga matahari, capung, dan lebah.

Imajinasi yang luar biasa ya.



"Everybody born to be a math person" (Siti Andriani)

"Math Person" adalah orang yang mampu menghadapi segala sesuatu melalui eksplorasi secara logis untuk menyelesaikan hal tersebut. Hanya saja perjalanan matematikan setiap orang pasti berbeda-beda.
Untuk anak-anak, kita sebagai orang tua perlu untuk memahami sampai di mana kemampuan anak lewat obrolan ringan. Tidak perlu meminta mengerjakan soal yang banyak dalam satu waktu sampai anak terlalu takut dengan hitungan. Cukup konsisten 10menit saja setiap harinya dengan obrolan ringan dan apapun ide atau kreativitas anak-anak dalam menemukan hasil adalah prioritas utama. Selanjutnya, dibantu sedikit soal untuk mengetahui sampai di mana rantainya.

Rantai Matematika adalah urutan tingkat kemampuan dalam bermain matematika.
Dan rantai tersebut sangat penting untuk ditelusuri satu per satu secara berurutan. Lebih baik tidak melompati setiap rantainya.  Sebagai contoh, untuk belajar bilangan 5 sebaiknya bilangan 1 hingga 4 sudah paham terlebih dahulu. Atau sebelum belajar perkalian, maka penjumlahan lebih baik sudah paham terlebih dahulu.

Tahapan dalam Rantai Matematika adalah:
1. Penjumlahan (1+1)
    Tahap 1: 0-5
    Tahap 2: 6-10
    Tahap 3: 11-19
     dan seterusnya
2. Proses Konstruksi Penjumlahan (2+1=1+2)
3. Pengurangan, dengan tahap yang sama
4. Perkalian
     Tahap 1: perkalian 2
     Tahap 2: perkalian 3
     Tahap 3: perkalian 4
     dan seterusnya
5. Pembagian, dengan tahap yang sama

Selama proses pengenalan tahapan kita bisa selipkan cerita matematika untuk mendukung pemahaman anak-anak. Cepat atau lambat proses pemahaman ini, tidak perlu menjadi kepanikan, karena setiap anak berbeda daya tangkap dan imajinasinya.



Kembali yang perlu diperhatikan untuk bermatematika dengan anak-anak adalah:
1. Fokus pada pola
2. Cara pengelompokan memudahkan
3. Mengacu pada rantai dan tahapan matematika
4. Bebas berimajinasi
5. Bebas mencari solusi



"Serumit apapun permasalahan yang dihadapai, tentukan dulu formulanya" (Siti Andriani)






Thank you so much Mba Andri...




-Tuhan Memberkati-



No comments:

Post a Comment