Thursday, March 1, 2018

Parent As Coach - by Naindra Pramudita

Mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu itu adalah sesuatu yang luar biasa. Apalagi ketika ilmu tersebut berkaitan dengan pola asuh anak di dalam keluarga.
Parent as Coach, adalah tema yang diusung oleh Mba Dita (Naindra Pramudita) dan dengan murah hati membagikan kepada kami semua hari Rabu, 28 February 2018 di Rumah Inspirasi.

Pada dasarnya, Coaching adalah tentang how to operate people.
Di kamus besar Bahasa Inggris, arti Coach adalah kereta, yaitu membawa orang dari satu titik ke titik yang lain, untuk maju ke titik yang lebih tinggi.

Parent as Coach adalah bagaimana kita merefleksikan diri kita ketika dulu diasuh oleh orang tua kita lalu menyadari akan menjadi orang tua seperti apakah kita.

Parent as Coach adalah bermitra dengan anak dalam suatu hubungan komunikasi yang mendorong proses kreatif untuk memaksimalkan potensi anak dan orang tua secara pribadi.

Image result for parent as coach



Mengacu dari buku Diana Sterling yang berjudul "The Parents as Coach Approach", Mba Dita mengingatkan kembali bahwa sebagai orang tua, tugas kita adalah sebatas mengarahkan anak-anak.

Proses Coaching mungkin tanpa sadar atau secara instuisi sudah dilakukan oleh sebagian besar kita, para orang tua, kepada anak-anak. Hanya mungkin saja, bisa dikatakan belum terkondisikan dengan baik. Sebagai contoh, ketika emosi memuncak atau marah, apakah kita sadar bahwa kita sedang marah tapi tidak mengeluarkan kata-kata yang tak perlu, tak fokus pada permasalahan, dan atau bahkan tak terkontrol?

Image result for parent as coach
Menyadari penuh dalam berinteraksi dengan anak adalah yang utama.
"Be Conscious!"
Anak adalah partner.
Setelah mereka belajar dari kita, maka kita akan belajar kembali dari mereka.
"We Re-Learn from Our Children"
Anak dan Orang Tua adalah jodoh.
Merekalah guru terbaik bagi masing-masing anak ataupun orang tua.


Sebelum kita menyadari proses Coaching kita kepada anak-anak, perlu diketahui beberapa hal mendasar. Bahwa semua perilaku manusia pada dasarnya memenuhi 5 kebutuhan dasar, yaitu:
1. Survival
2. Loving, Sex, Belonging
3. Power
4. Freedom
5. Fun





Dari kebutuhan dasar di atas, muncul sikap-sikap yang dikategorikan menjadi 2 kelompok yaitu Caring Habit dan Deadly Habit yang disebut "Choice Theory" , diteliti oleh William E. Glassner.



Mari kita sadari bersama, sikap-sikap kita saat ini berada di kelompok yang mana. Mengajak anak-anak untuk berproses dengan Caring Habit akan memudahkan proses belajar antara orang tua dan anak selanjutnya.


Menurut Diana Sterling, peran orang tua yang sangat optimal dalam Parent as Coach adalah:
1. 0 - 7 tahun = orang tua sebagai Guru
2. 7 - 14 tahun = orang tua sebagai Administrator
3. 14 - 21 tahun = orang tua sebagai Coach

Di tingkatan usia manapun, orang tua perlu mengenal apa yang ada di dalam diri anak-anak. Ada beberapa sikap nyata dalam keseharian yang menjadikan kualitas orang tua tersebut kunci utama sebuah hubungan yang baik.

Sikap nyata ini dapat mulai diperkenalkan sedini mungkin. Sehingga anak-anak akan berproses lebih panjang dan menjadi lebih paham untuk kemudian mampu memberikan kepercayaan kepada dirinya dan teladan bagi keluarga dan sekitarnya ketika anak mencapai usia remaja.

Sikap-sikap nyata tersebut adalah:
1. Respect
2. Listen
3. Understanding
4. Appreciate
5. Support
6. Responsible 
7. Independent



Dalam proses coaching, ada 3 kompetensi yang menjadi dasar utama, yaitu:

1. Presence
Kemampuan untuk hadir sepenuhnya saat berkomunikasi atau berinteraksi dengan anak.
Hadir sepenuhnya adalah hadir utuh dengan perhatian yang sungguh tertuju kepada anak dan dengan penuh kesabaran untuk memutuskan respon yang tepat.

Banyak cara untuk melatih Presence ini. Salah satu caranya adalah dengan meditasi, stretching, latihan pernapasan, hening, yoga, melatih 3 pertanyaan (saya dimana, sedang apa, mau kemana).

2. Active Listening
Kemampuan untuk menangkap dan memahami kata-kata, emosi dan makna tersirat, dalam berinteraksi dengan anak.

Seringkali kita terlalu cepat bereaksi ketika anak sedang berusaha menceritakan apa yang dia hadapi atau yang sedang dia rasakan. Penghambat Active Listening ini adalah judgment, asumsi, dan asosiasi.

Proses Active Learning mencakup 3 hal, yaitu kata kunci, emosi, dan makna tersirat.

Ketika anak bercerita akan muncul kata yang diulang-ulang atau ditekankan. Kata ini disebut kata kunci yang perlu diperhatikan dan diulang ketika kita hendak menanyakan kelanjutan ceritanya.

Perhatikan gesture anak juga mimik wajah saat bercerita. Akan muncul emosi yang dapat ditangkap untuk kemudian perlu menjadi ingin tahu untuk memberikan info kepada anak tentang situasi dan perasaannya. Emosi anak bisa bahagia, senang, sedih, bingung, ragu, dan lainnya.

Makna tersirat dapat muncul ketika proses emosi tertangkap dan selanjutnya perlu dikonfirmasi supaya anak lebih percaya diri untuk menceritakan secara detail dan lengkap. Sehingga orang tua dapat memahami apa yang menjadi keinginannya, apa yang dibutuhkan, dan apa yang menjadi hambatan.

3. Powerful Questioning
Kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang membuat anak kreatif (imajinasi dan berpikir maksimal)

Pertanyaan yang sering muncul lebih banyak adalah pertanyaan tertutup seperti, sudahkah? pernahkah? sudah apa belum? ya atau tidak?
Pertanyaan tertutup ini hanya perlu digunakan sekali-sekali saja untuk mengecek kebenaran.

Pertanyaan tertutup perlu diganti menjadi pertanyaan berbobot yang mampu memancing atau menggali sebuah cerita seperti, apa penyebanya? apa alasannya? apa? seberapa? bagaimana? siapa? dimana? kapan?
Pertanyaan kenapa? terkadang membuat shut down pikiran karena mengandung tuduhan.


Ketiga kompetensi inilah yang lebih dipriotiaskan untuk dilakukan di segala tingkatan usia.
Saat 3 hal ini berjalan dengan lancar, maka anak akan mencapai sebuah New Awareness setiap saat yang mana merupakan tujuan awal Coaching.

Pada saat New Awareness inilah muncul perubahan energi yang positif yang membawa anak kepada tingkatan pemahaman yang lebih tinggi.

Proses Coaching yang dapat diterapkan kepada tingkatan usia selanjutnya adalah Direct Communication, Design Action Plan, Managing Accountability, dan Review bersama.

Dalam berkomunikasi di level usia ini perlu adanya pemilihan cara penyampaian yang langsung pada inti masalahnya tanpa ada pertanyaan yang berbunga atau "lebay".
Dari hasil pembahasan tersebut, akan menghasilkan sebuah Design Action Plan yang merupakan sebuah pencapaian yang lebih besar daripada sebelumnya.
Dilanjutkan dengan realisasi dari rencana tersebut yang muncul murni dari anak sebagai bagaian dari komitmen sebuah proses yang dihadapinya.
Dan kemudian sebagai langkah akhir, review bersama orang tua akan diperlukan.




Terimakasih atas pencerahannya Mba Dita.
Sungguh sangat bermanfaat.


#sahabatkeluarga
-Tuhan Memberkati-



No comments:

Post a Comment